Almost Lover

You’ll know I’ll always love you.
You’ll know I’ll always care.
And no matter how far I may go,
In my thoughts,
You’ll always be there.
(Beyonce – Hard to Say Goodbye)

.

Tak pernah ada waktu yang tepat untuk saling berujar selamat tinggal. Tidak hari ini, tidak kemarin, bahkan untuk tahun-tahun menjelang.

Tak ada yang menginginkan. Namun ada kalanya cinta tidak cukup kuat untuk menjadi tumpuan.

Sebuah motor meraung, menantang jalan raya. Jarum speedometer-nya semakin meliuk ke kanan. Kecepatannya menggila. Tak terhitung berapa kali sang pengendara menyelip tanpa ragu. Tak perlu waktu lama, jalanan perlahan semakin sunyi. Laksana dialah penguasa lintasan. Deru motornya membahana, memecah hening.

Di balik helm yang menutup seluruh wajahnya, sang pengendara tidaklah lebih dari lelaki yang tak mampu berpikir. Terlalu sesak. Terlalu sakit.

Geliginya bergemeletuk, menahan yang seharusnya tak perlu jatuh. Tangannya mencengkeram kelewat erat, melesakkan yang tidak perlu tertumpah. Namun gagal.

Dia menangis.

.

“Kamu tahu ini tidak mungkin kan, Drey?” dia menggenggam jemari perempuan mungil di hadapannya erat. Tak terbayangkan baginya hari ini akhirnya datang. Ah, mungkin terbersit, tapi dia menghalaunya.

Perempuan itu duduk di depannya, dengan mata berkaca. “Tapi kita belum mencobanya, Nath…” rengeknya.

“Audrey, kita tidak perlu mencobanya untuk tahu.”

 .

Mendadak dia menghentikan lajunya. Dia turun dari motornya dan membanting helmnya keras. Benda itu terpelanting, memantul sejenak dan berputar sebelum berhenti di tengah jalan.

Tak usah dibayangkan penampilannya yang kusut masai. Dia tak ingin repot memperhatikan penampilannya. Tangannya menjalar, dari pelipis ke dahi. Ke surai rambut. Menjambak tanpa henti, mengusutkannya.

Sia-sia. Air matanya tetap menghambur.

.

Perempuan itu terdiam. Tak terucapkan bagaimana lelaki itu berhasil memecahkan hatinya hingga serpihan. Geliginya menggigit bibir bawahnya hingga memutih. “Nathan, kamu… membenciku?”

Nathan terperanjat. “Apa yang kamu katakan?! Tentu saja tidak!”

“Lalu? Kamu mencintaiku?” tanyanya, menatap sengit.

“Drey, please…”

Audrey mendengus. “See? Kamu membenciku, Nath.” Dia lantas melepaskan genggamannya dan melanjutkan, “Aku tahu aku menyebalkan, kepribadianku buruk. Aku cerewet, memintamu melakukan ini dan itu. Kita sudah bersama sekian lama, dan kamu diam-diam membenciku, kan Nath?”

Sang lelaki berkilah tak sabar, “Drey! Pertama, kamu tidak seperti itu. Kedua, aku tidak masalah kamu memintaku melakukan apapun. Ketiga, aku tidak membencimu.”

“Kamu mencintaiku?” kejar Audrey, lagi.

 “Drey, aku—“

Satu butir jernih tergelincir. Situasi yang dibenci Nathan. Tak pantas seorang putri menangis, katanya kala dulu.

Is it wrong if I want to have just you, Nath?”

.

Lelaki itu jatuh terduduk, tepat di samping motornya. Menghempaskan tubuhnya ke jalanan. Dibiarkannya butiran-butiran tanpa henti mengalir.

“AAAAAAAAAAARRRGGHHHHHH!!!!!!”

Hari ini saja, dibiarkannya dirinya jatuh.

.

.

Goodbye, my almost lover
Goodbye, my hopeless dream
I’m trying not to think about you
Can’t you just let me be?
(A Fine Frenzy – Almost Lover)

.

Tidak ada seorang pun yang mengatakan bahwa selamat tinggal akan seberat itu. Dan membiarkan seseorang pergi akan jauh lebih berat.

Tak ada yang menginginkan. Namun ada kalanya cinta tidak cukup kuat untuk menjadi tumpuan.

Bus berhenti, beberapa orang masuk dan mencari tempat. seorang perempuan memilih duduk di samping jendela. Kepalanya bersandar pada kaca, seakan untuk menyanggah tubuhnya saja menjadi hal yang sukar. Kendati matanya menghujam jalanan, pandangannya tetap kosong. Manik mata yang memantul momentum tidak menghantarkannya ke otak.

 .

Tangan kekar Nathan menarik tangan mungil Audrey, menggenggamnya kembali. Dia tak mengujarkan sepatah pun. Kesunyian bersalut yang dibencinya. “Nath…”

Kepala lelaki itu mendongak, menatapnya.

“Aku cinta kamu, dan kamu juga cinta aku, kan, Nath?”

Suaranya melirih. Lembut, suara yang selalu dia gumamkan di malam-malam pengantar tidur Audrey. “Audrey, yes I love you. Too much.”

Then? Kenapa kita tidak berusaha menjadikannya nyata?”

Nathan menghela napas. Seandainya dia bisa.

“Drey, wake up! Kita saudara.

 .

Perempuan itu ditampar kenyataan, jika kata ‘dibangunkan’ masih kelewat halus untuk mengembalikan pada realita.

…Drey, wake up!

Ada yang nyeri hingga ke ulu hati. Tangannya mencengkam dada kanannya. Seakan memberikan tempat lebih luas untuk ketenangan. Nyatanya tidak. Sakit yang sama masih tetap di sana. Menjalar ke seluruh nadi. Memancar hingga jemarinya bergetar.

.

Tak ada yang lebih memasung ketimbang kebiasaan yang kemudian dipaksa menghilang. Mungkin mereka sudah terlalu lama bersama. Terlalu lama berpura. Terlalu lama saling mencinta.

Terlalu lama, dan tidak berpikir akan ada akhir dari segala yang mempunyai awal.

“Nath, kalau kamu nggak ada, aku sama siapa?” cicitnya. Tak terhitung air mata yang lantas jatuh.

Ibu jari Nathan menghapusnya. Bibirnya menyentuh ringan ujung dahi sang perempuan. “Nanti pasti akan ada orang yang sayang sama kamu, mungkin lebih besar dari aku.”

Tidak ada yang menginginkan. Namun ada beberapa hal yang tak terhindar.

“Nggak ada, Nath! Nggak ada. Aku maunya kamu!”

 .

Mulanya dia yakin, tak ada air mata setelahnya. Tentu saja, estimasinya terpatahkan. Pelupuknya tak mampu menahan genangan, membiarkannya jatuh hingga ke dagu.

“Sakit, Nath…” rintihnya, nyaris tanpa getar di pita suaranya.

Bahkan di saat kepalanya dipenuhi dengung berulang, suara lelaki itu masih terngiang.

“Yakinilah, Drey. Rasa sakit itu, seperti halnya segala sesuatu yang lain, sifatnya transisional.”

 

Advertisements

7 thoughts on “Almost Lover

  1. wah, sad story,..
    mencintai saudara sendiri,..
    feelny dapat nih,..
    mencintai tp gk bsa m’miliki karana ya p’saudaraan,..
    nice ff,.. 🙂

.:: Leave a Note ::.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s