Morning After

Title         :   Morning After
Author    :  @adiezrindra
Length    :  Drabble (395 words)
Genre      :   Fluff, romance
Cast(s)    :   Chaerin (CL 2NE1), Jiyong (GD Bigbang)

Disclaimer :
All publicy recognizable characters, settings, etc are property of their respective owners. The original characters and plot are the property of author of this story.

This story copyright © 2012 adiezrindra, all right reserved.

Warning : Light rated. I’ve told you, guys~! kekeke~ ^^

.

Banyak perihal yang sayang dilewatkan tatkala riap cahaya menyelusup di antara kisi jendela. Kendati kerai sanggup meredamnya, beberapa bias masih menembus pelupuk mataku. Aku menggelung tubuhku ke dalam tubuh bugarnya. Pori kulitnya menjamah pipi. Dadanya bergerak seirama dengan degup ritmis. Menenangkan. Pun aroma sensual yang menggelitik, mencandu.

Oh my, what a heaven…

Perlahan dia bergerak. Lengannya menarik punggungku mendekat. “Euhh…”

Okay, dia terbangun.

Tangannya mengular lembut. Bermula dengan gesekan halus di punggungku, bahuku, berhenti di antara surai rambutku. Jemarinya bermain dengan helai-helainya dan menyusuri hingga ujung. Satu kecupan ringan menyentuh keningku kemudian. Kendati dua mataku terus terpejam, aku tahu dia menyeringai kecil sekarang. Iya, seringai yang acapkali dia ekspos di layar televisi.

I love you, Chae…” bisiknya, nyaris dengan desibel yang hanya didengar serigala.

Banyak perihal yang tak tersingkap di dunia ini. Sesederhana bagaimana deklarasi singkatnya berhasil melecut adrenalinku hebat. Aku tersenyum kecil. Masih dengan mata terpejam, aku membalasnya, “Benarkah?”

Alih-alih menjawab pertanyaanku, dia justru balik bertanya. Pria itu tak berusaha menyembunyikan keterkejutannya. “Hunchae? Sudah bangun?”

Aku tetap tak membuka mataku. “Benarkah, Ji? Prove it. Teriakkan pada dunia.”

Dia tak segera menjawab. Tungkainya melingkar di pinggangku, sembari tangannya memelukku lebih lekat. Kini tak ada jarak tersisa. Kulit-kulit kami bersentuhan, tak seutas benang pun terselip. Pria itu barangkali bodoh, atau berpura-pura tak paham, jika suara tenornya tak sekalipun gagal menggiatkan aliran darahku. Ah, opsi kedua jelas lebih pantas. Dia berbisik tepat di kupingku, “I love you.”

Seketika aku membuka mataku dan memberungut. Aku menatapnya sengit, “Kenapa kamu membisikkannya padaku?”

Dia tergelak kecil. Dua iris ruby-nya balik membalasku intim. Satu lagi yang masih tidak bisa aku jelaskan, mengapa tatapannya bisa menyiratkan banyak hal. Merta bagaimana tatapannya bisa menyeretku tenggelam di dalamnya.

Karena kamu duniaku, Chae.”

Sekonyong-konyong jantungku menghentak keras, memacu darah dalam skala besar. Wajahku memanas, dan —tak diragukan lagi— memerah. Kupu-kupu di perutku lepas dari sangkarnya, beterbangan liar di rongga mungilku.

See? Sudah kukatakan padamu, banyak perihal yang sayang dilewatkan tatkala riap cahaya menyelusup di antara kisi jendela.

Advertisements

55 thoughts on “Morning After

.:: Leave a Note ::.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s