Married

Title         :   Married
Author    :   @adiezrindra
Length    :   One Shot (1222 words)
Genre      :   Romance
Cast(s)    :   Jessica (SNSD), Dong Hae, Si Won, Yesung (SuJu)

Disclaimer :
All publicy recognizable characters, settings, etc are property of their respective owners. The original characters and plot are the property of author of this story.

This story copyright © 2012 adiezrindra, all right reserved.

.

Rapenburg. Aspal keabuan terlebur oleh putih. Ingar bingar penyanyi mengisi kanal dan jembatan hingga Witte Singel. Nyanyian seriosa di beberapa sudut, merayakan hari tanpa gelayut butiran salju. Sudah berapa lama waktu berotasi semenjak aku meninggalkan Leiden? Setahun? Dua tahun? Entah.

Aku pun tak ingin menggunakan sepuluh jariku untuk merapalnya.

Sungguh, tak sekalipun aku berimaji, bahwa aku akan berada di tempat ini sekarang. Menapaki kanal setelah sekian lama sembari menggenggam undangan pernikahan.

“Apakah kamu yakin pergi ke sana, Jessie?” tanya lelaki di sampingku. Manik emerald-nya menilikku khawatir.

“Hae-yah, aku yakin. I got the invitation, remember?” Aku tersenyum kepadanya. Entah bagaimana dia memaknai senyumku.

“Tapi kamu tak harus pergi ke sana. Si Won pasti mengerti.”

Alih-alih menyergahnya dengan sentuhan sarkastis, aku memilih untuk diam.

Yeah, Si Won akan mengerti, Dong Hae. Jika kamu tidak ingat bagaimana dia memaksaku untuk menahan tanganku ketika dia baru saja merengkuh yang lain.

Di bawah tingkap awan yang saling bergumul, aku tak lagi mampu mengenali daerah ini. Beberapa toko telah berganti wajah. Kedai makanan cepat saji di beberapa tempat, bak-bak baju diskon di sejumlah area. Samar aku mampu merasakan aroma Neiuwe Haring[1] dari salah satu karavan.

Okay, scratch this. Aku masih bisa merasi jalan setapak ini. Kendati aku tak ingin mengingatnya, kenangan tetap berada di tempatnya hanya untuk terbuka kembali, bukan?

.

“Hae-yaahh~!”

Untuk sekejap, aku melihat raut keterkejutan di iris ruby-nya. Lelaki itu kemudian mendengus dan membiarkan asap tembakau terkulai di sepanjang pelipir hidung. “Kamu lagi, Jess. Aku bosan melihatmu setiap hari ke sini.”

Bibirku mengerucut. “Huuu… jangan berkata seolah kamu tak senang melihatku di sini.” Tak perlu dilesapkan dalam hati ucapan-ucapan sarkastis ala Dong Hae. Pasalnya, dia hanya gemar melihatku memberungut. “Si Won… di kamarnya?”

No.” Dia menyesap puntung rokok di sela jemarinya.

“Yaahh… padahal aku membawakan lasagna untuk kalian berdua. Kita sudah lama tidak makan malam bersama, kan?” Aku mengacungkan tas jinjingku ke udara. Seketika saja, aroma khasnya sudah memanjakan bulu-bulu hidung. “Kalau begitu, aku akan meletakkannya di dapur dan menghubungi Si Won, key?”

Dong Hae beringsut membuntutiku panik. “Heyy, Jessica!! Aku sudah bilang Si Won pergi!”

Aku memperhatikan geriknya jengah. “So? Aku bisa menunggu, kan?”

Dong Hae mencengkam kedua pundakku. Dua sudut matanya memicing. “Dia tidak—“

“Yeah, Sungie… Right…”

Peringatannya terhenti di pemburit lidah. Kuping kami menangkap deru desah dari kamar Si Won. Dan aku tak perlu menduga dua kali, aksara itu keluar dari bibir kekasihku.

Aku mendesis, “Humm… Hae-yah, itu suara Si Won.”

“Jessie, itu suara Gray, teman sekelasku, ingat? I think you must go home.” Dong Hae mendorong tubuhku. Aku bisa merasakan pelik dari suaranya. Ini bukan pertanda baik.

Aku membalikkan badan. Menyusup di antara lengan pria itu. Lengkinganku memekakkan telinga, sembari berlari ke kamar Si Won. “No. I know it’s Si Won!”

…or no. Aku sungguh berharap, kupingku tidak mengenali desau itu.

Dong Hae memburuku. Suaranya terdengar memelas, “Jessie, please…”

Jelas sudah. Tak ada pertanda baik.

Aku memutar kenop pintu dan membiarkannya menjeblak lebar. “Si Wonniee… do you—“

Tidak mungkin.

Mungkin visusku memburuk. Atau mungkin akomodasi mataku sudah tidak sinkron dengan contact lens-ku.

Si Won, kekasihku selama tiga tahun, bercinta di ranjangnya…

…dengan lelaki.

Dia berhenti bercumbu dan menatapku pucat.  “Sica…?”

“Apa yang kamu—“ tanyaku terhenti. Bodoh, untuk apa aku bertanya tentang sebuah peristiwa yang tidak sepantasnya dipertanyakan. Bola mataku berputar sebelum kemudian aku berbalik arah. “Aku pikir kamu sedang sibuk, Si Won. Aku pulang.”

Sica!”

Aku berusaha menulikan telingaku. Namun, tak berguna kala tangan kekar lelaki itu meraih pergelangan tanganku dan memaksaku menatap maniknya. Sica, please don’t leave me.”

Kini gurat cumbu kemerahan semakin jelas terlukis di sekujur leher hingga dada bidangnya. Semuanya terbekas, dan semuanya dari bibir lelaki di ranjangnya. Sungguh, melihatnya saja sudah menjijikkan.

“Si Won, apa yang kamu pikirkan? Menahanku di sini dan melihatmu bercinta dengan Yesung? Apa kamu ingin aku melihat lelakiku, berada di ranjang bersama lelaki lain?”

Seiring dengan penekanan kata ‘lelaki’ di akhir pertanyaan, ceguk tangisku sudah menjalar ke tenggorokan.

.

Aku tersenyum getir, “Can we just walk to that place and shut your mouth, Dong Hae?”

.

***

.

Pernikahan megah itu dihelat di taman huniannya. Serupa laiknya dengan acara di belahan dunia manapun, mawar putih menghambur dari hulu pintu hingga altar. Aku menyusup di antara tamu lain, duduk di kursi yang diatur mengitari meja. Sudut mataku mencuri lihat senyum Si Won sepanjang karpet merah, pun dengan pasangan yang menantinya di ujung jalan.

Choi Si Won. Aku berani bertaruh apartemenku jika ada yang membual tentang cacat pada dirinya. Lihat saja wajah laksana mahakarya seni pahat itu. Pun tubuh bugarnya dalam balutan kulit pualam. Dalam setelan jas putih bergalur emas, dia mungkin bisa membuat seorang Orlando Bloom dongkol.

“Bilang saja kalau ingin pulang, Jess,” bisik Dong Hae di sela dentingan piano.

“Kamu mengkhawatirkanku?” balasku dalam intonasi serupa.

No. Aku hanya sayang makanan yang disiapkan Si Won.” Nada sarkastis yang terkenal itu terlepas dari bibirnya. Melecut emosiku hingga ke ubun.

Aku meliriknya tajam. Dia mengalihkan maniknya menyaksikan prosesi. Bibirku memberungut, memutuskan tidak mengacuhkannya. Namun sepertinya kakiku tak sepaham. Tungkaiku memilih untuk menginjakkan ujung stiletto dengan keras di ujung sepatunya.

“Yaa!” desisnya, memelototiku. Aku mengikik kecil.

.

Aku masih menyesap gelas wine-ku yang kedua kala Si Won menghampiriku. Cincin di jemarinya berpendar, menyeru jika sumpah sehidup semati telah terucap. Dia membingkai senyum, “Sica, thanks for coming.

You’re welcome, Si Won.”

Si Won mengambil satu gelas wine tatkala waitress berjalan di sampingnya. Jemarinya memainkan batang gelas sebelum kemudian menenggaknya habis. Dia lantas menatapku bersalah, “Sica, aku minta maaf untuk tingkahku tiga tahun yang lalu.”

Ucapannya menyelongsong tawa. “No need, Si Won. Sudah seharusnya aku melepasmu. Pada akhirnya, kamu bisa bersatu dengannya kan?”

Bibirnya melengkung, mengamini.

Dari sudut taman, lelaki yang mengenakan setelan serupa menyeru. Tangannya melambai tak sabar. “Hey, Yesung memanggilmu.”

Si Won mencuri lihat kekasihnya, dan menyimpul tawa renyah. “Ah, yeah. Dia benar-benar cerewet padaku, you know.”

Tawanya masih menyelipkan sekelumit kejut di sekujur venaku. Aku turut tergelak, “But you love him.”

Sekonyong-konyong dia mati kutu. Aku menohoknya di posisi yang tepat sepertinya. Tangannya lantas meraih tubuhku, melesakkan dalam pelukannya. “I wish you can feel same happiness, Sica. Meet the right one and be happy, please.”

Aku hanya memagut senyum di balik dadanya dan berbisik, “Thanks, Si Won.”

.

***

.

Berulang kali bulir salju merintik dari pelipir genting. Nyaris dengan jeda waktu yang selaras, menyajikan irama menenangkan ke penjuru balkon. Tanganku silih bergesek, menilik kehangatan satu sama lain. Samar riap rambutku terburai angin. Aku memang membiarkannya terjurai, berdalih mencegah dingin membangunkan kudukku.

“Sakitkah, Jessie?”

Suara datarnya mengejutkanku. Tanpa kusadari, Dong Hae sudah berdiri di sampingku. Tangannya menyodorkan sekaleng bir. Aku menerimanya dan menenggaknya perlahan.

“Tidak, Hae-yah…” Siku tanganku menumpu di besi beranda. Kendati Leiden hanyalah kota tua, tak berarti kota ini sunyi ketika larut. Sebaliknya, beberapa kawula tampak lalu lalang berpasangan. Aku terdiam. Dulu, mungkin aku dan Si Won juga berlaku serupa. “Aku sudah bilang kan, Si Won adalah masa lalu.”

Senyap.

Perlahan lengan Dong Hae menarik pundakku mendekat ke arahnya. Alih-alih memberontak, aku membiarkannya mendekapku dari belakang. Dada bidangnya dan punggung mungilku hanya tersekat oleh jaket tebal musim dingin. Namun aku sanggup merasakan hangat tubuhnya, juga wangi Armani yang samar.

“Di sini dingin, Jessie,” ucapnya kemudian. Anggaplah dia berusaha menjelaskan tingkahnya.

Aku mengangguk.

Hening seakan sudah berbicara segalanya. Kendati Dong Hae maupun aku nyaris mustahil berceloteh bak lokomotif, aku tahu dia mengerti jika Si Won tidak lagi di tempat yang sama.

Ada orang lain yang berdiam.

“Jess…” panggilnya, menghalau sunyi.

“Humm?”

Salah satu tangannya menjulur sepanjang lenganku, terhenti di jemariku. Sembari dia mengangkatnya hingga setinggi dada, aku merasakan ada yang menyusup di jari manisku.

Will you marry me?” bisiknya, tepat di kupingku.

Pandanganku tak mungkin teralih, selain pada cincin yang melingkar di jemariku.

Aku tersenyum simpul. “Yes, Hae.”

Ya, pria berlidah sarkastis itu yang berhasil mendiami.


[1] Makanan jajanan Belanda. Camilan dari ikan asin dengan tambahan garam serta bawang dan acar

Advertisements

22 thoughts on “Married

  1. Ingar bingar penyanyi mengisi kanal — ini sama atau beda makna unn sama ‘hingar bingar’
    Neiwe Haring – Nieuwe Haring *soalnya pernah makan sekali* trololol 😆
    Serupa laiknya – laiknya itu apa ya unn *gk up-to-date banget*
    Tanganku silih bergesek, — silih bergesek itu apa ya unn *gk up-to-date-lagi*

    Ouwh great! Cukup lama nggak melihat peter-puffer story yang disatukan sama kisah cinta happy-end. Dengan hasil yang ALMOST PERFECT 😀 Biasanya nemu dan picisan—banget—. grrrr

    Nggak terima awalnya Hae jadi perokok. But looking how sweet he treating Jessica, it makes he had his-sweet-look whatever he do :mrgreen: #bouncingoutt~~

    • Ehehe… Iya, maknanya sama. 🙂
      Silih bergesek maksudnya sih bergesekan gitu. Apa aku ganti aja ya?
      Laik itu layak. Serupa laiknya: serupa layaknya.
      Neiuwe nya tar aku ganti deh.

      Na, peter purfer itu… apa? .-.
      Hhe.. Makasih. Ini biar perfect nya diapain dulu?

      Abisan pengen bikin hae jd orang yg dingin gitu maksudnya. Semacam agak msterius, bad boy. Makanya… Dia dibuat ngerokok. Huhuhu..

      Muucih ya naa.. Udah dibetarider-in.. :***

      • ohh gitu.-.
        saing gk up-to-date nya /dorr

        peter-puffer itu saudaranya iris-creamer & happy-flower = gay unn ^^

        ohh gitu.-.
        kalo gitu gpp deh abang hae jadi sosok misterius /dorr 😆

        ca’ma” unn 😆

  2. U KNOW WHAT, DIS?! I LOVE YOU!!!

    Kece!! ceritanya kece!! Yewon laknat banget hadoooohh… tapi aku suka mereka… ><
    beberapa kata aku ga mudeng. Ah kau tau lah stok diksiku gimana dis lol…

    Ini cakeeep… cakep ceritanya!! Tapi haesica-nya kurang kkk… lebih fokus ama cerita sica yg diselingkuhin wowon ya?

    Makasih loh sayang udah dibikinin ini… *ketjup ketjup tabi*

    • hahaha~~ ara ara~ I love you too, tri.. 🙂

      muucih trii. emang yewon laknat bangett. dan aku kan udah bilang kalo mau ada yewon. :p
      err, kata2 yg mana tri? mau aku ganti kah?
      lolol.

      eh, iya sih. haesica nya kurang. tta–tapi… saya bingung mau diapain lagi. :((
      mau dipanjangin gimana dongs trii?

      macamaahh~ jangan ketjup tabii~!! ketjup dongwoon aja boleh. 🙂

    • komennya kepotong, untung sempet di copy duyu (?)
      ini nih versi aslinya
      aduh, aduh, aduh ><
      trus itu yewonnya laknat banget ya ;o;
      tapi gapapa, jadi ada haesica kan kemudian (?)
      oiya, makasih dan salam kenal~^^

      • ah, kepotong lagi T^T
        gatau mesti bilang apa T^T
        gatau mesti bilang apa ih~
        kalo anak gaul bilang, ceritanya badai banget!!! /aww
        haesicanya unyuh cewkalih!!
        ga banyak momen tapi cus, kawin! (?) #jengjeng
        ah, aku jarang banget banget bangetan nemu fics haesica pake bahasa
        eh ini dikasih tri, keyen lagi ><
        trus itu yewonnya laknat banget ya ;o;
        tapi gapapa,
        nah ini yang kepotong (?) #gapentingsih #tapikalokepotonglagiyaudahlah

      • *ngakak baca komen*
        salam kenal sebelumnya kak nina.. 🙂

        unyunyunyuu~~ ceritanya dongs ketje, kayak yang bikin. lol. :p
        iya, hae nya langsung ngajak kawin siih. jadi gak banyak momen. 😦
        mianhae…

        ehehe~~
        emang jarang banget ya? ini aja tri yang rikues sih ._.
        makasiihh lho kak.. 🙂
        iyes, yewon nya laknat. minta dirajang banget kann??!

        sekali lagi makasih dan salam kenal.. 🙂

  3. Kakak, maaf ya baru mampir sekarang. Aduh, aduh… semua kerjaan saia kepending gegara modem dudul ini. Mari saia bayar sekarang ya, sebelumnya terima kasih ya kak sudah memilih saia sebagai beta-reader. Well, ya saia juga masih amatir sih ya… jadi mungkin kalau misalnya editan saia ada yang gak sepaham dng yang kakak ketahui, tentu gak harus diturutin. Saia cuma mengemukakan pendapat saja.

    Dari segi ceritanya, saia suka sekali dng idenya. Ya, mungkin karena saia diam-diam (ehem) menyukai cerita-cerita yang sesama jenis. Dan saia tau banget, kakak gak asal memilih latarnya (karena yang menerima pernikahan legal antara sesama jenis kan Belanda ya salah satunya?). Awalnya saia sempat terpukau, wah… ternyata kakak milih tempatnya bukan di Korea (jingkrak-jingkrak), terus narasinya juga apik. Ditambah deskripsi latar yang mendetail, itu menambahkan kesan plot yang mengalir di cerita kakak, tapi mungkin sebagai saran… untuk kota ‘Leiden’ dan catatan kakinya, saia rasa mending gak perlu diberikan catatan kaki deh, Kak. Mungkin ini agak terkesan mengaburkan latar (digampar) tapi kebanyakan cerita-cerita bergaya terjemahan memang jarang sekali meletakkan penjelasan nama kota di dalam catatan kaki. Sebagai gantinya kota tersebut bisa dijelaskan di narasi, boleh disebutkan navigasinya, seperti yang kakak lakuin itu udah bener banget lho. Nah, tinggal menebak-nebak aja nih… kota itu di mana ya? hahaha 🙂

    Terlepas dari itu, ketiga karakternya juga kuat. Ceritanya gak mengambil dari sisi perkenalan, melainkan dari kejadian yang nyaris akhir. Itu brilian banget deh, kak. Gak biasa gitu, jadi kakak penempatkan plot cerita ini bukan sebagai cerita standar yang ada di buku, melainkan seperti diangkat ke layar kaca. Dan pas adegan pas si cewek memergoki Siwon yang sedang ehem ehem /dor dng seorang cowok, itu saia gak nyangka banget. Walaupun latar belakangnya ada di Belanda, tapi saia gak nyangka klimaksnya bakal seekstrem itu.

    Overall, saia suka banget deh idenya. Sebuah judul singkat ‘Married’ tapi mendeskripsikan lika-liku unik di dalemnya 🙂

    Dan terakhir untuk koreksiannya:
    1. Di bawah tingkup awan yang saling bergumul, …
    >>>> kata ‘tingkup’ di sini tidak berarti, kak. Apa mungkin maksudnya ‘tingkap’? karena kata ‘tingkap’ sendiri sering merujuk ke jendela yang ada di atas 🙂

    2. Kedai makanan cepat saji di beberapa tempat, gelontoran baju diskon di sejumlah area…
    >>> gelontor = diguyur air banyak-banyak; mengeluarkan uang banyak-banyak. Er, mungkin kata ‘gelontor’ di kalimat ini tidak menjejaki konteks yang tepat. Boleh alternatifnya: ‘onggokan’, ‘bak-bak’ (biasa diskonan ada di bak kali ya?)

    3. Untuk sekejap, aku melihat raut keterkejutan di iris ruby-nya. Lelaki itu kemudian mendengus dan membiarkan asap tembakau terkulai sepanjang pelipir hidung.
    >>> di depan kata ‘sepanjang’ mungkin kurang keterangan tempat ‘di’.

    4. “No.” Dia menyesap putung rokok di sela jemarinya.
    >>> puntung

    5. “Yaahh… padahal aku membawakan Lasagna untuk kalian berdua. Kita sudah lama tidak makan malam bersama, kan?”
    >>> yang ini saia agak gak yakin, tapi perasaan sih kalau nama makanan asing… kecuali memiliki kekhasan dari suatu daerah, nama makanan tsb tidak perlu diberi huruf kapital 🙂

    6. Dong Hae mencengkam kedua pundakku
    >>> mencengkeram

    7. Aku bisa merasakan pelik diantara sergahnya…
    >>> kata ‘pelik’ bersifat adejektif, sedangkan konteks yang diperlukan di sini adalah nomina, jadi mungkin kata ‘pelik’ bisa diberi prefiks -an agar kelas katanya berubah. Dan untuk kata ‘diantara’ seharus dipisah, tadi ada di beberapa kalimat kakak juga, di antara merupakan keterangan tempat, kak. Jangan lupa spasinya ya 🙂

    8. Ringkikanku memekakkan telinga, sembari berlari ke kamar Si Won…
    >>> ‘ringkik’ = suara tiruan kuda, mungkin yang kakak maksud ‘ringkingan’? karena ‘ringking’ itu teriak artinya.

    9. Mungkin visusku memburuk. Atau mungkin akomodasi mataku sudah tidak sinkron dengan contact lens-ku.
    >>> kata ‘contact lens’ di sini sebaiknya jangan diitalic. Sebenernya ini hal teknis yang renik banget, tapi karena kakak keliataannya juga paham bener soal tenkis penulisan yang berlaku, di awal-awal juga ada kasus begini tapi bener kok, jadi mungkin yang ini kelupaan doang 🙂 *sok tau bener lu, ching*

    10. Bibirnya melengkuk, mengamini.
    >>> melengkung(?)

    11. Ya, pria sarkas itu yang berhasil mendiami.
    >>> kata sarkas sendiri tidak berarti, harus diberi imbuhan belakang. Mungkin ‘sarkastis’? Karena konteksnya memerlukan kata sifat?

    Er, kak… komen saia kepalang panjang. Maaf ya kalau saia cerewet banget. Semoga berguna editannya. Dan saia suka sekali deh permainan kata kakak. Sebuah kisah terjemahan yang gak lupa menyematkan diksi sastra Indonesia di dalamnya 🙂 love it. Keep writing.

    • err… oke. saya bales ya zura.
      hha…

      iya, Belanda adl sah satu negara yg melindungi hak-hak sesama jenis. termasuk pernikahan. Makanya saya pilih negara itu.
      Leidennya itu… saya susah juga jelasin navigasinya. Saya sendiri juga bingung kalau dekskripsi tempatnya juga. saya cuma membayangkan kota itu memang penuh kanal tua nan kuno. *begitu yang saya lihat dari foto dan baca dari map Leiden University* /plak/
      tapi footnote nya udah saya hilangi. karena sebenernya ungkapan kota tua itu udah saya tulis juga di akhir. hehe…

      itu adegan flashback nya, saya memang pengen mengambil inti bahwa siwon is gay. dan di pikiran saya sebenernya lebih ekstrim. tta–ttapi… saya nggak mampu mendekskripsikannya. nanti saya harus naikin rating dongs. :/
      itu masih kelewat ekstrim ya?

      makasih untuk memuji judulnya.

      1-5 & 10 accepted~! udah saya ganti kok.
      6 >>> saya biarkan mencengkam saja ya.. 🙂
      7 >>> sudah kita bicarakan kan? sudah saya ganti sesuai kesepakatan bersama. kekeke~~
      8 >>> saya ganti lengkingan. mungkin penempatan ringkik sangat tidak tepat. haha…
      9 >>> iya, itu typo. kelewat dings. hehe…
      11 >>> saya masih bingung. mau dibiarin atau diganti entah apa. rasanya ‘pria penikmat sarkasme’ itu kurang tepat bagi saya. ada ide lain?
      hehe…

      nggak papa kok panjang. mendetail dan memberikan pencerahan sekali. 🙂
      duh, bukannya permainan kata kamu jauh lebih unggul ya?
      makasih lhoo zura, udah dibeta-in. kapan2 lagi yaawhh.. :***

  4. Pingback: Married | FFindo

  5. Pingback: Married | FFindo

  6. Annyeong Adiez, sorry aku baru meninggalkan komennya sekarang, sebenarnya udah baca ini lama banget, cuman pas awal baca itu lagi dalam perjalanan menuju kampus, dan ngga enak kalau komen lewat hape hehehehe…

    Aku suka sama ide ceritanya dan juga suka sama diksi yang Adiez gunakan… Aku kagum deh, karena sampe sekarang aku susah banget nemuin diksi yang bagus untuk tulisan aku.

    Well karena sepertinya Adiez sudah memberikan perbaikan-perbaikan, maka aku ngga komentarin lagi, yang pasti aku suka banget sama ceritanya Adiez, jadi ngebayangin gimana yah kalau aku dibikinin cerita sama Adiez heheheh 😉

    • annyeong unniee~~ ^^
      hhii, nggak papa unn. saya mah dikomen aja udah seneng. :))

      makasih unn. itu nggak tau saya kesamber apa kok bisa bikin diksi begituan. kayaknya kesurupan Shakespare deh. :/
      hhe…
      semangatt unn. diksi unnie juga bagus kok. 🙂

      iya, sudah aku perbaikin, tembel sana sini. ^^

      aku buka req pairing sih unn. iya, bukan req FF. cuma req pairing aja. 🙂
      ya walo nggak pasti juga bakal dikerjain apa nggak.

  7. Akhirnya Si siwon dibikin rusak disini… hahaha… *dirajam elf

    Keren banget gak nyangka kaya gitu klimaksnya, with a man??? OMG… sumpah gak nyangka…
    Oh iya ada lagi, kenapa harus Jessica, kenapa??? kenapa????

    jujur aku lebih suka yoona… *plak abaikan yang satu ini.
    Aku suka ini, seperti biasa singkat, tapi menjelaskan semuanya…
    Good job!!!

  8. Pingback: Before The Worst | dandelion notes

.:: Leave a Note ::.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s