(-1) : Buih

Entah siapa yang paling mula berkelakar hingga bualan ini terdengar elok di telinga. Laut selalu bercinta dengan buih. Yang benar saja! Manusia pesisir tidak akan sungkan untuk tergelak jika berita ini melipir di kupingnya.

Kukatakan padamu, laut selalu membenci buih. Dianggapnya, buih acapkali mengganggunya ketika penyelam mulai bercengkerama. Sedikit gerakan, dan buih tercipta untuk mengaras. Bagaimana bisa dia menyentuh pori sang penyelam, jika buih masih saja terus bergelayut di tiap incinya?

Kukatakan padamu, penyelam menyukai kehadiran buih. Membiarkan buih berkelana sepanjang kulit pualamnya. Menikmati sensasi menggelitik tatkala buih serentak menyerbu wajahnya. Baginya, laut tidak akan jangkap tanpa buih diantaranya.

Sekiranya kubisikkan padamu satu rahasia. Tak bermakna jika ada yang mengira buih ingin mencuri sang penyelam. Tak ada guna. Apalah artinya beribu partikel bagi seorang penyelam, dibandingkan dengan lautan yang menyediakan oksigen padanya. seandainya lautan sudi menanti sejenak saja, maka buih akan senang hati akan menguar ke permukaan.

Dan menghilang.

Advertisements

7 thoughts on “(-1) : Buih

  1. Sorry, kalo berlebihan, tapi setelah saya selesai membaca tulisan kamu ini saya langsung tepuk tangan, hahaha. Saya udah baca beberapa tulisan kamu, tapi di sini saya menemukan sesuatu yang cerdas. Kalo di postingan “Kala Senja” itu hal biasa dibikin rumit, kalo di sini, hal yang biasa dibikin luar biasa. Buih, laut, dan penyelam itu seperti memberikan sebuah pelajaran hidup untuk tidak curiga berlebihan, tidak cemburu berlebihan, tidak menganggap sesuatu yang akrab dengan kita adalah milik kita sepenuhnya, dan satu hal yang paling penting, mau menunggu. Semua tercover, dan dideskripsikan dengan baik menggunakan buih, laut, dan penyelam.

    • kak botsun… ^^/
      aduh kak, ini… nggak sebegitunyaa… ><
      duh, pesan yang saya sampaikan sudah nyampek dengan baik. iyes, karena segala sesuatu sesungguhnya bukan milik kita seutuhnya, maka jangan menggenggamnya terlalu erat. begitulah. 🙂
      makasih kak.. 😉

  2. Ng, anu. Gimana jelasinnya ya? Aku nangkep pesan yang bagus sih dari tulisan ini. Meski butuh pijit-pijit pelipis dulu gitu, kak. Trus, musti bolak-balik baca dulu, kak. Tapi, buih, laut, dan penyelam adalah analogi yang keren 😀
    mungkin, cernaan aku atas tulisan ini gak sama persis dengan maksud kakak. tapi setidaknya, tulisan kakak yang ini menyingkap sesuatu ~ *eaeaea*
    Soal teknis dan lain sebagainya mah saya angkat tangan, belum cukup ilmu. Hehehe

.:: Leave a Note ::.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s