(-2) : Masquerade

It’s not the end of the world but it feels close enough.
All I can do is fake a smile and be tough.

.

Sang perawan terkelu di pojok ballroom. Tatapannya tak berarti, hanya memantulkan tiap hentakan tanpa sempat terekam. Senyumnya terpasung di udara. Siapapun tak akan gagal menerka ekspresinya kala itu, meski topeng keperakan membungkus muka mungilnya tak bercela.

Seorang pria berperawakan tegap menghampiri. Salah satu tangannya mengurut riap rambut ikal yang terjurai. Mata hazel teduh itu pun ikut bertanya tanpa aksara. Dipikirnya pancaran saja pun sudah lebih dari cukup untuk saling berungkap.

Gadis itu menggeleng. Tidak ada yang lebih dikhawatirkannya selain malam bersejarah pria tersebut. Tak sedetik pun dia berharap risaunya tertangkap mata.

Tidak pantas bagi pria itu untuk mengalaminya.

Kedua tangan mungil melesak dalam setiap ceruk jemari. Kendati pria itu menatapnya lekat, dia sendiri pun tak berhasil menangkap apapun yang terlesap.

Hening.

Sesosok wanita kemudian perlahan mendekat. Tangannya menggamit lengan kekar tanpa sekat. Kendati bibir wanita itu berjingkat, keduanya tak buta untuk menerka tepat. Wanita itu membenci kehadirannya. “Boleh aku berdansa dengan kekasihku, Lyn?”

Dara itu hanya mengangguk.

Sepasang itu menjauh. Alih-alih menikmati alunan Beethoven dari denting piano, pria itu mencuri lihat di balik pundak. Irisnya masih mempertanyakan perihal yang serupa untuk Lyn.

Perjamuan itu, tak ubahnya laksana neraka. Keramik tempatnya berpijak menjelma jadi api, menjalar di penjuru kaki lencirnya. Pun dengan boneka-boneka yang bergarit seirama. Topeng-topeng berbulu penuh manik hanya sebagai penjilat. Menarik lawan jenis untuk sejurus, kemudian musnah.

Dia mengerti, tak sedetikpun dia dikehendaki. Hadirnya tak lebih dari seekor tikus yang mencicit mengharap sekerat roti. Siapa yang peduli?

Tangannya kemudian menari, menyiratkan beberapa kata untuk sang pria. Sudut bibirnya menyunggingkan senyum. Tentu saja, palsu.

Don’t worry.

Setelahnya, dia berlalu. Pergi.

Advertisements

4 thoughts on “(-2) : Masquerade

    • haha… nggak papa kok kak… 🙂

      ceritanya itu si Lyn punya hubungan khusus yg tidak diterjemahkan sama sang lelaki, padahal si lelaki sendiri udah punya cewek.
      jadi mereka intinya semua berpura2. Lyn berpura2 baik2 saja, lelaki yg berpura2 nyaman sama ceweknya, walau dia khawatir sama Lyn, dan ceweknya yang berpura2 baik sama Lyn padahal benci setengah mati.
      sampai akhirnya Lyn memutuskan untuk pergi dari tempat itu krna gak tahan, and say don’t worry.

      see, terlalu banyak topeng, like a masquerade.

.:: Leave a Note ::.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s