Kala Senja

Tak perlu berkhayal terlampau panjang jika berbincang dengan kata ‘kita’. Alih-alih berharap takdir memaut kita dalam satu kaitan benang. Dunia menyatroni salah satu dari kita pun, rasanya serupa imaji semata. Mengajak kita untuk tergabung dalam konspirasi? Katakan, bualan dari zaman mana rekaan itu.

Aku pun tak ingin membuang waktuku tuk berdelusi.

Setidaknya, sampai salah seorang dari kalian mencoba mengetuk kembali. Membincangkan perihal usang yang seakan tak akan pernah berhenti dikoyak. Entah, bahkan kita enggan untuk repot-repot menambalnya. Meninggalkannya begitu saja di balik pintu, bersamaku.

“I’m trying to make her forgive you. And make you forgive her too.”

Mungkin karena aroma manis yang tak lekang menciumi segelas cappuccino instant. Mungkin karena gadget baru yang kugamit –tentu saja, cukup sayang untuk berakhir dengan kecupannya di dinding kamar-. Aku hanya menanggapi obrolan tabu itu dengan perasaan wajar saja. Atau mungkin aku telah kelewat kebas?

I forgave her for a long time. But if she do this again and again, it’s open the wound.”

Entah.

Just take it simple. I’ll apologize. It’s not about who’s wrong, but how to end this state,” tulisku kemudian.

Haha! Cemooh saja, aku memang tolol. Semudah itukah aku mengatakannya? Jawabannya memang iya. Cibir sekali lagi, karena dia pun begitu. Tentu, sembari mencoba menimbang sama tinggi.

“From a very long time ago just a few month after the blast.. I think that I will make three of us meet in one place. But my friend opposed it. Karena akan ada kecenderungan untuk berpihak kepada satu sisi.”

Ya udah, bela dia aja nggak papa.”

“Nooo! I don’t want on the other side. I’m on my side.”

Patutnya, aku mengerti. Tak eksis manusia yang mampu mengadili dengan berimbang. Sejurusnya, aku hanya berujar enteng melalui ketukan jemari di layar ponsel. “If anythin happen, just in her side. She needs you more rite?”

Sudut mataku mengintip jendela. Sore yang menjelang, guratan senja yang mengambang. Aku mengganjur isi gelas hingga meruah. Segamblang itukah aku membiarkan sarafku bekerja? Barangkali iya, pun bisa saja tidak.

Aku terkunci seorang diri tatkala kalian memilih berjingkat mundur perlahan. Tak merasa janggal hingga aku merongrong meminta jalan. Kendati aku memang sudah berdiri dari jurangku terpelosok, aku masih tak bisa merapal, apa aku mampu berlakon selayaknya kala semesta berkonspirasi?

Masih, preferensi yang serupa. Iya, atau tidak. Tak usah repot menelannya hingga terbenak. Biarkan aku dan putaran waktu yang menuntaskan.

Advertisements

16 thoughts on “Kala Senja

  1. halo, kak. sebuah fiksi yang menarik deh, diksi yang diangsurkan juga gak kalah keren. melengkapi kegalauannya jadi sangat, sangat terasa 🙂
    dari bahasa yang mendewa ini, sepertinya ini menyorot tentang persahabatan ya? tentang orang menganggap ‘aku’ sebagai sebuah pihak lain, tapi nyatanya setiap orang punya pendirian yang terusik. sebuah pesan simpel tapi sengaja disirat dng permainan kata yang uapik tenan ‘ ‘b

    oya, tapi kak… boleh saran sedikit. buat kata mengganjur gelas hingga tandas. er, itu agak ambigu deh (abaikan aja kalau saran saia ini gak jelas banget) /disambit. soalnya kata ‘ganjur’ sendiri berarti menarik/menyentak, mungkin maksud kakak ingin menggambarkan gelas yang ditarik (seperti saraf yang refleks dan gamblang di tengah riak tenang), tapi jika diimbangi hingga tandas. kesannya menjadi gelas itu disesap sang pemiliknya hingga tandas, gimana kalau kata ‘tumpah ruah’, kesannya lebih spontan, menurut saia.

    terus buat kalimat direct-nya:
    …She need you more rite?”

    harusnya ‘needs’ you, bener gak? itu subjeknya tunggal kan ya? tapi beneran deh, kak. ini fiksi keren sekali. selain terpukau dengan bahasa Indonesianya, celotehan bahasa Inggrisnya kerens sekali, saia iri. Bisa menulis kalimat bermakna dalam bahasa Inggris juga 🙂

    keep writing.
    maaf ya, kalau saia cerewet sekali *bows*

    • sejujurnya saya masih nggak terima lhoo dibilang keren sama kamu. punya kamu itu jauh lebih kereeenn. sumpah deehh~
      yess, it’s abt friendship. 🙂 classical thing lahh.
      kamu kok bisa menebak secara tepat gitu siikk esensinya. hihi..

      saran accepted~!
      udah aku ganti lhoo semuanya. aku cuma ganti ‘tandas’ menjadi ‘meruah’ sih. how? cocok tak? 🙂
      and yes, itu subjek tunggal. maklum bikinnya tengah malam. /plak/

      sama2 belajar lahh yaa kitanya. saya juga banyak belajar dari kamu kookk. 🙂

      dan saya suka sekali komen cerewet. walo… butuh waktu lebih lama buat ngebales. kekeke~
      :****

      • aih, kenapa kakak? saia jujur menuturkannya dari dalem hati /ea. er, tau dongs. sebenernya saia nebaknya dari tulisan-tulisan yang dicetak miring itu lho. hehehe.
        boleh, boleh.. meruah itu lebih baik sepertinya.
        iya, maafkan komen saia yang panjang ini. susah dibales. kekeke.

  2. Nah~ Dibanding yg pertama, aku jauuuuuuuuuhhh lebih suka sama yg versi baru ini.

    Menurutku sih, esensi cerita itu berada di nomor urut pertama suatu fiksi.
    namanya juga fiksi, kan? kita bakal menyajikan sesuatu yg memang berbuah dari pikiran kita sendiri. Jangan sampai yg baca bertanya-tanya dengan apa yg kamu sampaikan kecuali kalo kamu emg punya agenda khusus spy yg baca bertanya2.

    Awesome lah~ makin keren deh kamu. 😀

    • jadi yang ini lebih ngerti? 🙂

      iya sih, emang isi kan yg dicari. tapi… saya ragu juga waktu menuliskan ini. maksud hati sih supaya tidak menimbulkan prasangka lain, yg mengakibatkan prahara berlebihan begituh…
      semacam, gimana bikin cerita ini dimana karakternya itu gak ada yg jahat. 😦
      hhii…
      tapi semacam sebelumnya saya kelewat implisit.

      duuhh, punya umma juga awesome kok. :***

  3. setiap orang berjalan di jalannya sendiri. Meminta maaf tak melulu perkara siapa yang salah, tapi setidakya itu bisa mengakhiri sesuatu ketika kita masih sibuk mencari siapa yg salah. Setuju… masalalah kecil dalam sebuah relationship yg menurut saya dibuat kompleks dalam tulisan ini. Dan di ending menyiratkan bahwa waktu akan menjadi jawaban yang sempurna….. masalah klasik, pesan klasik tapi dibuat beda, pertama karena ini menajdi sangat kompleks di tulisan ini, atau mungkin karena diksinya yang membuat ini terlihat kompleks, entahlah… But, to put it simply, so nice

    • iya kak. begitu inti cerita ini. terkadang masalah yang simpel bisa menjadi sangat kompleks, tergantung dari individu yang menjalani. kan tidak semua orang sepemikiran, dan tidak semua orang memiliki pandangan yang serupa. 🙂
      hhii… mungkin diksinya yang memperumit. 🙂
      makasih ya kak kunjungannya.. ^^

.:: Leave a Note ::.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s