If Only

Malam ini aku baru sampai di apartemen tatkala rembulan kehilangan separuh nyawanya. Pintu depan masih terkunci, pun lampu ruang tamu yang juga padam. Rasanya aku perlu mencatat bila aku harus menyalakan lampu kala aku berangkat kerja.

Tidak ada sup hangat menungguku malam ini. Kendati aku sudah merasi, aku hanya berharap ada sajian di meja makan, dan seulas senyummu yang melambai padaku. Aku mendengus sebal. Kamu pasti lupa membeli bahan masakan hari ini. Seingatku, minggu ini giliranmu menyiapkan makan malam kan?

Aku meringsek ke dapur. Alih-alih membuat sesuatu untuk makhluk yang berorkestra di perutku, aku hanya memasak mie instan.

“Kamu juga mau, huns?” tanyaku tanpa sadar.

Tak ada jawaban.

“Ah, kamu pasti mau kan? Aku buat di satu piring saja ya?” tanyaku lagi.

Aku duduk bersila di sofa merah butut, sofa yang seharusnya kulemparkan saja ke tempat sampah ketika kita pindah. Tanganku mencari remote televisi, menyalakan acara komedi yang selalu kamu putar setiap malam. Para pelakon itu tidak pernah gagal memancing lekuk di bibirmu. Aku tertawa untuk setiap potongan adegan yang tersaji.

“Huns, itu lucu kan?” celetukku, melirik ke arahmu.

Dan aku sadar, ada yang hilang di sini.

Hanya aku yang terduduk di sofa ini. Aku lupa, bahwa kamu sudah tidak di sini.

Aku lupa, tidak ada lagi yang akan tergelak kala pemain itu mulai bertingkah.

Bahkan aku lupa, karena semua sudah kuatur selaku kamu masih tinggal di sini. Seolah kamu masih menghujaniku kecupan tatkala lampu tidur padam. Seolah kamu masih menyeduhkan kopi hangat dan saling mendengar celoteh pembawa berita olahraga sebagai pembuka hari. Kendati aku sudah memastikan bahwa wewangianmu pun sudah tak menghuni ruangan ini, penaka kamu tidak pernah mengadar di hidupku.

Aku membenamkan wajahku ke dalam bantal, berimaji bahwa itu adalah pundakmu. Tak sekalipun aku melewatkan tempat itu tuk bersandar, menghirup semangatmu merta menyesapnya untuk diriku sendiri.

“Huns, kamu tahu, aku dapat promosi jabatan hari ini. Tapi aku belum menjawabnya. Menurutmu bagaimana, Huns?”

Perca kenangan itu terputar laiknya film cellophane lawas. Debur nafas dan dengkur halus yang menabuh pipiku. Berbagi cangkir dua cappuchino instan kala hari berulang. Saling bergumul di bawah naungan selimut.

“Dan tebak, John mengajakku makan malam akhir minggu nanti. Aku boleh datang tidak?”

Aku masih bisa mendengar degup jantungmu. Layaknya kotak musik yang berulang, aku bisa menggambarkan dengan riil, rengkuhan teduhmu, dan bibir tipis dengan aroma cerutu.

“Kita juga dapat undangan pernikahan Jessie minggu depan. Apa kamu datang, Huns?”

Tak perlu membuka pelipir halaman selanjutnya, kenangan sudah semena menyerbuku. Aku bahkan tak sadar, air mata sudah melukis pipiku. “Huns…?”

Aku tak bisa lagi membagi keadaanku hari ini. Tidak hanya itu, aku bahkan kehilangan kamu, tempatku berbagi segalanya dalam hidupku.

I really can’t help to wondering, if we are sharing this heartbreak. Are we?

The person who used to love me is not by my side but
I still can’t forget you, I can’t forget you
If only I can see you at least once more
If only I can see you, if only I can see you again[1]


[1] Huh Gak – A Person I Used to Love

Advertisements

2 thoughts on “If Only

  1. Hah! Ada Huh Gak >,<
    Dan kamu pernah liat Heaven-nya Ailee gak? Tulisanmu ini mengingatkanku banget sama MV itu…

    well, ketika di mention kamu nanyanya tulisanmu berubah lagi ato enggak~
    btw, kamu mau aku ngebandingin ini dengan tulisanmu yang mana. Sincerity, kah?

    kalau boleh jujur sih, membandingkan sincerity dengan ini, yg terpikirkan sama aku itu cuma betapa gak stabilnya tulisanmu. *jangan timpuk sayah*
    tp itu semata-mata kenanya itu bukan soal diksi, tp juga soal cerita.

    di sincerity selain diksinya sangat tegas dan kuat, di sana rasanya kamulah penguasa kata2mu. sementara di sini, kata-katanya lebih terkesan umum dan kekuatan kata2nya itu ga merata di semua bagian tulisan.
    tp dibandingin tulisanmu yg lama2, ini malah udah jauh lebih baik.

    lalu soal cerita, sincerity punya unsur surprise dan sesuatu yang bisa mengejutkan orang lain. sesuatu yg belum aku temukan di sini.

    maaf nih aku ngomongnya begini~ aku juga ndak tau apa-apa, aku jg ga jago diksi2an, tp karena kamu nanya jadi aku jawab sesuai apa yg kurasa ya. .___.v

    semangat sayang, practice makes perfect!! FIGHTING!!!

    • maaf umma, baru bales… di kosan kan nggak ada inet. dan saya males bales via hape. :p

      iya, saya pake kata2nya Huh Gak. itu ngejleb benjett.
      pernah liat ailee kok. iya ya, agak mirip ya..
      padahal saya nulisnya sambil dengerin ‘4men – That Man That Woman’ sama ‘4K – bye bye bye’ lho…

      yaa… maunya sih dibandingin sama sincerity dan requiem, umma bacanya kan sama yg 2 itu. 🙂

      iyah, saya tau kok kalo tulisan saya berubah lagi. :'((

      mungkin karena Sincerity itu lebih sarkas ya ceritanya. since I’m the sarcastic one, yaa… jadi lebih seneng aja nulisnya.
      *mungkin sih* *lame excuse*

      soal ceritanya sih, ini maunya berkonsep diary gitu bukan sikk. *lahh ini sapa yg bikiinn?!*
      jadi gak ada yg mau dikejutin jugak. mungkin nest stories lahh yaa..

      gppa kok umma. aku sih mikirnya umma kan yg tau perkembanganku sejak awal. jadi yaa… the first one yg bakalan tau perubahanku aja. hihi.. 🙂

      muuciihh ummaa~
      aja aja fighting~! ^^

.:: Leave a Note ::.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s