Untie


Khalayak nyaris sependapat jika kematian diidentikkan dengan nyawa yang berpindah alam. Atau diibaratkan ketika ruh sudah tidak menggayut raga. Atau ketika nyaris seluruh orang yang kita kenal, merelakan air mata mereka untuk memupus blush on di pipi, dan memandang kita –yang terbujur kaku, dengan bibir berjingkat membentuk senyuman damai. Atau tatkala peti yang mulai terkubur dalam tanah, dengan bergincu mawar merah dan berhias batu nisan.

Beberapa diantara kita, sering menyebut kematian kecil, tatkala satu kesempatan melayang tanpa mereka sempat meraihnya. Atau mungkin membiarkan sesuatu itu menghilang, nyaris tanpa perlawanan untuk membuatnya bertahan. Atau saat pekerjaan masih membukit kala petang menjelang.

Barangkali.

Bagiku, tidak sempat mengurus beasiswa, adalah kematian kecil. Tidak menonton konser yang tiket masuknya menjulang tak teraih, adalah kematian kecil. Atau…

kala aku melepaskan kamu.

Ah, ini typo.

Ini bukan kematian kecil. Separuh nyawaku adalah mencintai kamu, sisanya adalah kamu sendiri. Jika akhirnya kita tidak saling merengkuh, jika kamu memilih untuk mengakhiri segalanya, bagaimana bisa aku disebut… hidup?

Aku tahu, hubungan selalu berjalan layaknya gula-gula. Manis pada awalnya, dan berangsur menghilang. Hingga pada satu waktu, jarum detik seakan berhenti. Ya, ketika kamu mulai berhenti mencintaiku.

.

I love you like a tree to the rain. I love you even if it cost me pain. Alih-alih menanyakan hal ini padamu, aku hanya berteriak dalam senyap. Dan menikmati percik perhatian yang mungkin masih sempat kamu bagi padaku. Tentu saja, sembari menelan sakit ini sendiri, hingga nafas tak lagi berhembus.

Like an euthanasia gas. Like an overdose painkiller pills.

.

Setolol apa aku di matamu? Kendati aku berlagak seakan ini hanya senda, dan segalanya tetap di jalan yang sama, aku tetap tahu. Namaku tak lagi terpatri di tangkup hatimu.

Dan nyatanya, aku bukan erotomania[1].

.

Hey, jangan menatapku dengan manik seperti itu. Bukankah kamu selalu berat menimbang? Walau aku selalu lebih ringan dalam takaran milikmu.

Aku tahu, aku selalu menyimpan cukup kesabaran untuk tetesan yang mencurangi pelupukku. Aku tahu, aku selalu mempunyai kacamata hitam untuk berlakon tak mengerti apapun. Aku tahu, aku cukup sempurna di mata orang tuamu. Aku tahu.

But darling, I’m not the one. You know that. Your love is not for me, don’t think too much. It’s simple.

.

No, it’s not you fault. Please don’t say sorry. Aku yang salah, tidak bisa membuatmu bertahan. Kamu bebas sekarang.

You know, melepaskanmu adalah pernyataan cintaku yang tertinggi.

.

See you…

.

PS: Look, I’m smiling, right? Now, I wanna see your smile. Please smile for me.

.

 


[1] suatu jenis gangguan delusional di mana penderita memiliki khayalan bahwa orang tertentu sangat cinta dengan mereka

 

Advertisements

6 thoughts on “Untie

  1. Sedikit lagi saja, kalau ini dilanjutkan atau dikuatkan di beberapa bagian. Tulisannya akan sangat manis, Diez. 😉

    • kak teguuuhh~~ ^^
      iya kaahh? bagian mana bagian mana??
      duh, maaf ya kak. ini bikinnya… ekspress. seperempat apa setengahan jam gitu deh.
      hhe.. sorry for that lame excuse. ><

      • Kamu tahu sendiri kekuatan tulisan kamu ada di bagian mana bukan? 😉

        Gak apa-apa. anyhow, tulisan yang dibuat dengan ‘hati’, biasanya jika dibaca dengan ‘hati’ juga, efeknya luar biasa. 😀

.:: Leave a Note ::.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s