Sean, You Know?

Title          :   Sean, You Know?
Author    :   @adiezrindra
Length    :   Orific, Ficlet (890 words)
Genre      :   Friendship
Cast(s)    :   Sean, Reiko, Keyla

Disclaimer :
All publicy recognizable characters, settings, etc are property of their respective owners. The original characters and plot are the property of author of this story.

This story copyright © 2012 adiezrindra, all right reserved.

_________________________________

.

Rei menyusuri koridor panjang dengan ekspresi tertekuk. Bibirnya mengumpat, sejurus dengan langkah gontainya ke ruangan di ujung gedung kiri. Beberapa kolega yang tak sengaja bertegur dengannya hanya dia balas dengan senyuman setengah hati. Bahkan dia tak tertarik untuk repot-repot menjingkatkan separuh bibirnya.

Sial. Harusnya dia tidak keluar dari ruangannya siang tadi. Sekarang, apa hasilnya? Dia harus merelakan harga dirinya untuk menemui Sean, supervisor divisi sebelah kiri, advertising. Sejatinya, koridor yang seharusnya dapat ditempuh dalam dua puluh langkah itu seakan menjadi beratus-ratus kilometer ketika kakinyalah yang berjalan. Bukan, bukan karena kakinya hanya setinggi meja duduk, hanya saja, dia terlampau malas untuk sekedar melirik Sean.

Cih.

Dia merutuk untuk kesekian juta kalinya hanya dalam satuan menit. Menghakimi kesialannya bertemu dengan Keyla, sahabatnya kala istirahat siang.

“Rei, kamu tidak sibuk kan siang ini?” tanyanya tergesa, sembari mengatur segunung dokumen di dua tangannya.

Rei berpikir sejenak, “Tidak. Kenapa, Key?”

“Bantu Sean mengatur konsep advertisement untuk produk yang launching minggu depan, please?” mohon teman kentalnya dengan tatapan berharap.

Oh Tuhan, katakan ada yang lebih buruk dari ini. Lebih baik jatuhkan saja dia dari pucuk pegunungan Himalaya, ketimbang dia harus berurusan dengan pria itu.

Otaknya meramu alasan, apapun. Apapun. “Aku divisi marketing, Key. Kita tidak berhubungan.”

“Please, Rei… aku tahu kamu yang bisa membantunya. I mean, kamu punya kapabilitas lebih dibandingkan cecunguk-cecunguk yang hanya menunggu perintah di depan ruangannya itu.”

Rei membutuhkan alasan lain. Pikir, pikirkan, Rei…

“Apa gunanya kamu menerima mereka jika mereka tidak mampu, Key?” DIa melirik arloji sewarna emas di pergelangan kirinya, dan berpura-pura teringat sesuatu, “Dan oh! Aku tidak bisa. Aku ternyata sibuk.”

“Rei…”

What?”

“Kamu bertengkar dengan Sean?”

Manik mata tipisnya membulat. Begitu terlihatkah keengganannya berurusan dengan pria Amerika itu?

No, Key,” jawabnya singkat dan datar.

“See, jadi tidak ada masalah kan?” Keyla mengerling sejenak sebelum berbalik menuju lift dan menekan angka enam, ruang pimpinan perusahaan. Rei bahkan belum sempat berkilah, pintu lift sudah terbuka dan Keyla melambai dari dalam, “See you at his office, Rei~”

Okay, sekarang dia makin menyesali ketololannya. Berdiri di depan pintu berlapis fiber kualitas terbaik dan mendengkus malas. Dia mengaram dari celah jendela. Sean masih berkutat dengan monitor flat screen di hadapannya dan bercarik-carik kertas di tangannya yang lain. Rei merebut oksigen untuk memnuhi paru-parunya, sebelum dia mengetuk perlahan.

“Sean?” panggilnya datar, sembari melangkah masuk.

Sean mengangkat kepalanya dan terkesiap. “Reiko?”

Rei menggaruk tengkuknya, dan tersenyum tipis, “Key memintaku membantumu mengatur konsep untuk advertising produk baru.”

Alih-alih mengiyakan ataupun menolak pernyataan itu, Sean hanya terdiam. Mungkin masih terperanjat dengan kehadiran tiba-tiba wanita semampai itu.

Kikuk, Rei memilih untuk berjingkat mundur, “Err, mungkin kamu tidak membutuhkanku. Lebih baik aku pergi saja.”

Wait,” sahut Sean sembari beranjak dari kursinya. “Aku pikir Key sangat sibuk hari ini sampai-sampai kamu harus kemari. Dia akan membunuhku jika aku tidak menyelesaikannya hari ini.”

“Ah oh, okay,” Rei tergagap. Lebih karena dia tidak berekspektasi terhadap reaksi pria itu pada pernyataannya. Dia berjalan menuju serakan map di meja kerja, “Mana yang harus aku kerjakan?”

Sean menyerahkan beberapa map pada Rei  dan menjelaskan seperlunya. Sesaat kemudian, keduanya tak lagi dalam satu interaksi, seakan menghilang dalam pikiran-pikiran yang menyesaki lobus.

Tidak dipungkiri sebenarnya, Rei tidak lagi berbicara dengan Sean satu bulan ini. Entahlah, mungkin satu gedung ini juga sudah tahu, Rei dan Sean, dua orang yang laiknya sepasang roti sandwich itu sudah lama tak saling bertegur sapa. Tak ada yang mengerti mengapa, ataupun sampai kapan.

Tak ada yang berani bertanya, karena jawabannya adalah satu kilahan dan sejuta alasan dari bibir mereka. Menutupi cerita sebenarnya.

Sebentar, Rei berpikir sejenak. Kenapa mereka berkelahi? Atau setidaknya, kenapa mereka memilih untuk sok-bersikap-seperti-anak-kecil seperti ini? Dia juga tidak tahu. Lebih tepatnya, dia bahkan tak ingat kenapa mereka menjadi seperti ini.

Bodoh sekali.

Sekarang, mungkin alasan yang penting, mungkin juga tidak. Dia lupa. Namun yang pasti, saat ini dia memilih dia, tak menghiraukan pria itu.

Awkward… this is sooo awkward.

Berulang kali ujung matanya mencuri pandang, pria itu tetap sama menawannya. Ah, dia memang selalu menawan. Begitu yang dia dengar dari bibir-bibir penggosip di resepsionis lantai dasar.

Need some air. Some air…

“Lebih baik aku keluar sejenak,” ucapnya kemudian dan beranjak dari kursinya. Keadaan yang sedemikian menyesakkan jika dia bertahan di ruangan itu.

Sean terkesiap. Sekonyong-konyong tangannya meraih pergelangan tangan Rei, “Wait.”

Rei terbelalak, menatap Sean tak percaya. Kepalanya menunduk, menyetarakan kesenjangan mata. “What?”

I’m sorry…”

Tersentak. Alih-alih bertanya makna dari afirmasi singkat itu, Rei hanya tercenung, menunggu Sean meneruskan ucapannya.

“Rei, so sorry. Aku lelah dengan tingkah dingin seperti ini. Kita bukan anak kecil lagi, Reiko Hamura.”

Reiko tertegun. Salah satu diantara mereka ternyata ada yang menyerah. Setelah satu bulan mereka bersikap tidak lebih baik dari sepasang balita yang baru bertemu, kini Sean yang meminta maaf padanya. Seserpih hatinya merasa bersalah, atas sesuatu yang mungkin seharusnya dia yang mengatakan. Bahkan untuk kesalahan yang pada hakikatnya sudah dia lupakan.

Such a stupid.

Dia kembali duduk di kursinya. “A’right. I’m sorry too,” lirihnya kemudian.

Bibir Sean melengkuk, sembari menatap Rei tak percaya. “Jadi, kita masih bisa berteman kan, Rei?”

Of course.”

Keduanya kembali tercenung.

“Rei, aku boleh bertanya sesuatu?”

“Humm?”

“Maaf sebelumnya, Rei…” Sean memutar kursinya, menghindari tatapan Rei. “Kenapa kita bertengkar?”

Huh?

Rei terperangah, untuk ke sekian kalinya hari ini. “Kamu lupa, Sean?”

Sean tersenyum rikuh, “Sorry, Rei… Aku mencoba mengingat-ingat, tapi aku… tidak berhasil. Sorry…

Wanita itu tergelak hingga hiruk memenuhi ruang. “Sean, you know? Aku juga lupa.”

Advertisements

.:: Leave a Note ::.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s