My Gentleman

The greatest gift I ever had…

“Dis, kamu tau, papa sebenarnya mau ke sini kemarin…” ujar seseorang di belakang kemudi, memburai keheningan. Alih-alih membalasnya dengan segala bentuk tanya yang menyesaki otakku tiba-tiba, aku hanya memandang pria itu diam. Kerutan di matanya kini semakin nampak, hampir selaras dengan kulit piasnya yang semakin mengendur.

“Tapi kata mama nggak boleh,” lanjutnya, masih dengan manik mata kecoklatan yang menyusuri jalan.

Hari sebelumnya, aku memang meminta tolong membawakan barangku yang tertinggal. Botol ekstrak lebih tepatnya, untuk kepentingan skripsiku. Namun karena beliau masih dinas, maka beliau datang hari ini. Sekalian cari-cari rumah buat adekmu, begitu katanya.

“Lah, papa kan kerja?” tanyaku akhirnya.

“Iya, maunya papa nganterin ke sini, terus balik kerja lagi.”

Sontak aku terbelalak. Bukan apa-apa, rumahku ke tempat dinasnya itu membutuhkan waktu satu jam. Pun dengan rumahku dan tempat kuliahku yang sama-sama menempuh waktu satu jam. Bukankah itu artinya beliau harus mengendarai Kijang hitamnya selama dua jam? Belum pula beliau harus kembali ke tempat kerjanya.

“Ya iyalah paa. Jelas saja mama nggak mau. Iya kalo Surabaya-Malang itu seperti kosanku ke Rumah Sakit. Dua jam, pa. belum lagi buat baliknya, empat jam. Ya aku juga nggak mau lah,” kelakarku.

 

came from God…

Bibir ayahku hanya berjingkat sedikit. Beberapa gigi putihnya mengaram di celahnya. Manik mata kami bersirobok sebelum kemudian beliau melanjutkan, “Dis… dis… Jangankan nganterin beginian. Ini sih bukan apa-apa. Kalau perlu ya dis, nyawa pun akan papa berikan kalau buat anak papa.

Aku terhenyak.

Apa yang harus aku ucapkan kemudian? Bahkan susunan kata yang tersimpan dalam lobus pun sirna sudah. Mataku hanya berpaling, manatap sederet rumah yang seakan berlari melawan lajuku. Sayup-sayup suara merdu ayahku menyanyikan lagu Iwan Fals, dan air mataku.. jatuh.

I call him DAD…

Advertisements

9 thoughts on “My Gentleman

  1. Astagaa…. Ini begitu…. Menyentuh…
    Memang ayah dan ibu itu selalu menjadi nomor dua (setelah Tuhan tentunya) di hati kita, tapi tidak banyak ayah yang kayak Adis punya 😀

    Beruntung banget Adis ^^
    We love our parents differently, so do they

    Sukaaaa kata2 nya ini XD

    • duh kakak, makasiih… ^^
      setiap orang tua kan menunjukkan kasih sayang yg berbeda2. tapi saya yakin semua orang tua pasti rela melakukan hal yg sama untuk anaknya. 🙂
      makasih ya unn..
      yes, kita semua punya cara sendiri untuk mengekspresikan. 🙂

.:: Leave a Note ::.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s