Seijitsu

Title          :   Seijitsu (Ketulusan)

Author    :   @adiezrindra

Length    :   Orific, Ficlet, (665 words)

Genre      :   Romance (?)

Cast(s)    :   Tamaki, Yoshida

Disclaimer :

All publicy recognizable characters, settings, etc are property of their respective owners. The original characters and plot are the property of author of this story.
This story copyright © 2012 adiezrindra, all right reserved.

_______________________________________________

.

“Pergi kamu dari sini! Dasar penyakiitt!”

Pekik nyaring di pagi buta itu berbuntut gema yang terdengar hingga ke pelosok rumah bordil. Semua penghuni yang baru hendak terlelap, terbangun dan memilih untuk mengaram dari celah-celah pintu. Seseorang berperawakan tinggi dengan bobot berlebih mendorong Tamaki dengan lengan gempalnya hingga terjerembab ke tanah. Alih-alih membalasnya, wanita muda itu sibuk mengusap kasar butiran bening yang mengumpul di ujung pelupuknya. Tas ala kadar miliknya dibuang begitu saja, menampar tubuhnya yang masih lelah.

“Kenapa masih di sini?!! PERGIII!!” teriaknya lagi, lebih nyaring, lebih menghujam hingga ubun-ubun kepala.

Tamaki beringsut dan menjinjing tas merah kusamnya. Dia tak ingin mendengarnya lagi. Bahkan, dia tak ingin berdiri di sana lebih lama.

Terhina. Hanya itu yang mampu diecapnya sekarang. mana ada seorang pun di dunia ini yang ingin hidup seperti dirinya?

Pamannya sendiri yang menjual dirinya di tempat kotor itu delapan tahun yang lalu, ketika dia bahkan masih belum mengenal sake. Seorang lelaki cabul memenangkan harta satu-satunya, keperawanannya, dengan harga yang mahal. Dan tentu saja, tidak sedikitpun yang masuk ke dalam belahan dadanya. Tidak sepeser yen pun.

Delapan tahun dia dipergunakan. Menari bak orang sakit jiwa di hadapan para pria bermata sipit yang kehilangan kontrol atas gairah, memelucuti pakaiannya satu persatu hingga kulit pualamnya tersibak tanpa sehelai pun benang. ‘Bermain’, begitu istilah mereka, dalam menggunakan tubuhnya dengan semena-mena di atas ranjang, hingga ketika pagi menjelang, hanya ada beberapa puluh ribu yen sebagai tip yang tertinggal di atas meja rias.

Delapan tahun.

Kini, ketika dokter di klinik dekat soapland di daerah Roponggi memvonisnya dengan AIDS, wanita itu membuangnya bak sampah. Empat huruf laknat yang kini sangat fasih di bibirnya itu, membuatnya jijik dengan dirinya sendiri. Sebelumnya, dia selalu membenci dirinya sendiri, namun kini dia bahkan berambisi untuk membakar dirinya sendiri, atau menceburkan dirinya sendiri di Teluk Minamata.

Jika sudah begini, apa yang masih bisa diimpikannya? Menemukan cinta? Cih. Cinta?! Ini bukan cerita dongeng yang biasa dia baca ketika kantuk menjelang di masa kanak-kanaknya. Tak akan ada, dan takkan pernah ada lelaki yang akan memandangnya sebagai wanita. Dia hanya objek. Objek untuk seks. Tak lebih, pun tak kurang.

Wanita itu diruapi amarah, ketika ujung matanya menangkap berbagai cibiran dari orang sekitar, pun dari wanita jalang yang biasa berjalan bersamanya. Bukan untuk berbagi kisah, hanya untuk mencari customer dan meraup beberapa lembar yen. Hey, mereka bahkan tak lebih tinggi harkatnya dari dia!

Dia berjalan lunglai, masih dengan jaket tipis dan rok di yang hanya menutup seperempat paha. Surai rambutnya kusut dan make up yang tak bersisa, dia mengelilingi kota, masih dengan cemooh tanpa henti. Hingga ketika senja memenuhi janjinya untuk kembali menjemput malam, ketika pusat dunia itu mulai beringsut mundur, ketika itu pulalah kakinya memutuskan untuk berhenti.

Dimana dia pun, dia tak mengerti. Hidup delapan tahun, terkungkung, dan tak pernah pergi kemanapun selain Tokyo membuatnya kehilangan arah setelah menaiki beberapa bis siang tadi. Di hadapannya kini hanya selangsa pasir kecoklatan dengan ombak yang kian menggila menghantam pantai karena angin laut.

Dia melangkah dengan perasaan pelik, dengan riap rambut yang terbuai angin. Rok bertumpuknya melambai hingga mengekspos kaki jenjangnya. Kemana dia harus pergi sekarang?

“Tamaki!!”

Jantung Tamaki berdenyut keras. Satu tamparan untuk suara yang familiar di kupingnya. Dia berbalik, dan menemukan seorang lelaki dengan perawakan tinggi tegap menghampirinya.

“Yoshida-san…” ucapnya tanpa sadar.

Lelaki itu… dia mengenalnya. Lelaki yang selalu memintanya melayaninya ketika akhir pekan. Lelaki yang memperlakukannya sebagai wanita, setidaknya lebih manusiawi ketimbang kliennya yang lain. Lelaki yang tanpa sadar… mengokupasi seluruh hatinya diam-diam, hingga pada akhirnya merajai setiap malamnya. Menjadikan imajinasi tiap engahnya.

“Tamaki, aku mencarimu ke mana-mana!” ucapnya sambil terengah. Tangannya meraih pergelangan Tamaki lembut.

“Yoshida-san, pergilah. Aku… tak lagi bekerja di rumah itu.” Tamaki lekas-lekas mendorong Yoshida menjauh.

“Aku tahu. Tapi aku menginginkanmu.”

“Tapi aku… punya—“ elak wanita itu, dan terputus.

“Aku tahu. Dan aku tetap mau kamu.”

Mukanya bersemburat merah, tersipu rikuh. “Yoshi—“ dia mencoba menolaknya, sebelum Yoshida menginisiasi sebuah ciuman lembut di bibir Tamaki.

“Aku tidak peduli, Maki. Aku mencintaimu,” bisiknya lirih, tepat di samping telinga Tamaki.

Adakah seorang lelaki yang masih berpikir dengan hati? Entah. Namun untuk pertama kalinya dalam segala perjalanan kelam Tamaki, dia mulai mempercayai tulusnya cinta.

Advertisements

14 thoughts on “Seijitsu

  1. Selalu ada ruang untuk ketulusan. Bila kita memang benar-benar mencarinya. 🙂

    Keren. Setting dan karakternya bagus Diez. 😀

  2. Halo, Kak Adiez. Salam kenal ya. Saia sudah lama men-stalking blogmu *digampar* tapi belom sempat membaca. Nah, sekarang saia mampir. Dan aduh, saia suka sekali dengan idenya. Memang klise, tapi unik. Seringnya orang mengambil intisari yang manis dan akhir yang manis pula, tapi cerita kakak berbeda. Diawali dengan fakta yang kurang enak, tapi ditutup dengan manis. Saia suka banget. Apalagi latarnya juga sangat gamblang, saia bisa membayangkan gemerlap Roppongi di malam hari, tapi rumah bordil itu keliatan suram banget. Dan, poin plus plusnya dari cerita ini menurut saia ada pada narasinya. Sangat ngalir dan puitis, padu dengan temanya yang sangat angst ini. Keep writing, Kak.

    • halo, azure. 🙂
      haiiss… ngapain juga menstalking blog geje macem begini. kkeke~

      saya harus bales apa ya kalo komennya berbobot kayak gini? hha.. 😀
      pertama, saya kepikiran fakta bahwa how hard life of kupu-kupu malam. who want to have life like that?
      terusan… latarnya kerasa kah? soalnya saya gak seberapa aware sama bagian ini .__.
      saya benernya malah takut kalo narasinya bikin bosen sih. tapi untunglah kalo malah mepercantik. hhe..
      makasih ya udah mampir. 🙂

  3. Wah, dari judulnya aja udah kerasa feel ‘mantep’nya, ternyata emang mantep…
    Terlepas dari cerita yang aku nggak tau darimana asal usulnya, FF ini lebih menceritakan tentang si judulnya sendiri ya. Tentang gimana ketulusan dan cinta itu dipahami sebenarnya ^^

    Bagus~~

    Ohya, yang dpake buat nama itu nama siapa ya? Ato ngasal comot aja?

    • waduh, judulnya aja udah berasa? kekeke~
      asal usul maksudnya gimana kak? ini murni fiksi kok.. 🙂
      iya, memang intinya tentang ketulusan.

      makasih kaakk.. ^^
      namanya asal comot kok. saya suka aja nama tamaki. ehehe..

  4. aku prediksi 1/100 cowok yang bakal bersikap kaya si cowok itu~

    Singkat tapi sweet. Aku suka tema-tema gak biasa kaya gini. Sebenernya kisah hidup itu bukan cuma romance yang bikin blushing2 gak jelas doang. dan ketulusan yang kaya gini keren banget buat diangkat. *jadi curhat*

    Walaupun singkat tapi aku suka. ^^

.:: Leave a Note ::.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s