Requiem

 

Title          :  Requiem

Author    :   @adiezrindra

Length    :   Ficlet (895 words)

Genre      :   Angst, Sad

Cast(s)    :   Jake, Dyane, Jane

Disclaimer :

All publicy recognizable characters, settings, etc are property of their respective owners. The original characters and plot are the property of author of this story.
This story copyright © 2012 adiezrindra, all right reserved.

.

____________________________________

.

If forever was a second, would you be glad you were with me? 

.

Makan malam bersamanya masih terekam segar di otakku. Dengan hiruk pikuk pengunjung kedai yang bergunjing entah apa, dan makanan yang mulai mendingin di hadapan kami. Sudut mataku mengintipnya sejenak, tatkala dia masih menyendokkan nasi, mendendangkan dentingan tak berirama ketika benda logam itu beradu dengan piring kaca.

“Jadi, bagaimana hubunganmu dengan Dyane?” tanyaku, sembari mengubah dudukku menghadapnya.

Bibirnya berjinjit kecil dan menjawab datar, “Tidak ada apa-apa.” Setelahnya, dia sudah mengambil satu sendok yang lain.

“Benarkah?” kejarku, dengan nada menggoda. Sikuku menyerempet lengannya pelan, membuatnya terhenti menikmati makanannya.

Dia memandangi botol-botol soda di hadapan kami sebelum kemudian dia beralih menatapku. “Kita baik-baik saja, Jane. Memangnya apa yang ingin kamu tahu?”

Alih-alih menjawab, aku hanya mengedikkan bahu dan memutar bola mataku ke seluruh ruangan segiempat itu. “Apa saja. Aku jarang bertemu denganmu, Jake.”

Lelaki berwajah tegas itu pura-pura berpikir keras, walau sebetulnya aku bisa menduga dengan akurat, dia sudah menumpuk segudang cerita untuk dibagikan kepadaku. Dia menyeringai dan mengucapkan satu pikiran yang pertama keluar dari otaknya, “Dyane masih sering cemburu padamu.”

Aku terkekeh pelan, “It’s old story, Jake. Harusnya kamu bilang padanya, kita hanya sebatas Jane yang selalu minta diantar, dan Jake yang baik hati mengantarkan.” Satu suap dariku sebelum melanjutkan, masih dengan satu cengiran, “Dengan bayaran mahal.”

Kali ini gilirannya yang tertawa keras. Bagaimana tidak, aku hanya memintanya mengantarkanku ke service center di pinggiran kota, dan dia memaksaku membayarnya dengan makan malam di kedai samping stasiun ini.

Melihatnya yang masih mengeluarkan suara membahana tanpa acuh pada sekelilingnya, aku hanya bisa menggembungkan pipiku sebal.

Hening sejenak, ketika masing-masing dari kami memilih sibuk menghabiskan makanan dengan porsi untuk empat manusia itu. Beberapa saat kemudian, dia berujar santai, “Aku sempat putus dengannya.”

Seketika saja aku terkesiap, menghentikan tanganku, membiarkan sendok dengan gumpalan nasi itu di udara. “What? Bagaimana bisa?”

Satu sudut bibirnya terangkat, “Lelah.”

“Sebentar…” tanganku terangkat memijit pelipis dahi. Tiba-tiba saja rasanya kepalaku berdenyut, seakan baru saja usai berputar di dalam cangkir  di taman bermain. Aku menatap manik mata yang tampak geli itu tak percaya, “Lelah? Kamu sudah berhubungan dengannya hampir setahun dan kamu putus hanya karena lelah?! Alasan macam apa itu?!”

“Hey! Memangnya aku tidak boleh merasa lelah?” kilahnya. Dalam hati aku hanya bisa berdecak, dia masih saja membela diri dan tidak mau kalah argumen denganku, seperti biasanya. aku sudah sangat fasih menyebutkan semua peringainya, termasuk dalam hal ini.

Maksudku, bagaimana bisa dia memutuskan hubungannya dengan Dyane hanya dengan alas an sepele seperti itu? Oke, aku tahu. Mungkin ini bukan masalah remeh baginya, mengingat dia harus menjalani hubungan jarak jauh dengan Dyane. Tapi bukankah apa artinya jarak dan waktu, kalau harapan mereka jauh lebih bermakna untuk dijalani?

“Bukan begitu…—”

Err, tunggu, mungkin ini hanya kelakar seseorang yang lebih piawai menjalani hubungan semacam ini. Misalnya, aku. Bukankah setiap orang dilahirkan dengan keahlian yang berbeda?

“Oke, lalu?” tanyaku dengan mata menyipit, meminta kelanjutan dari potongan ceritanya.

Dia mengambil nafas sejenak, memenuhi ruang parunya sebelum melanjutkan, “Sebulan kemudian, aku menyadari… ternyata aku sangat rindu padanya. Benar-benar rindu, Jane.”

Aku terdiam.

“Dan aku pergi ke rumahnya, dan memintanya kembali,” lanjutnya kemudian.

Nafasku tercekat. Rentetan cerita picisannya menjadi begitu menegangkan di telingaku. Atau mungkin aku yang terlalu berlebihan memberikan reaksi padanya. aku mengejarnya dengan setengah berbisik, “Dia mau?”

Kedua sudut bibirnya melengkuk seraya jemarinya bergesekan dengan dagu kasarnya. Dia menyeringai bangga, “Tentu saja. Buktinya sekarang kami masih bersama kan?”

Ucapan yang bernada menyebalkan di kupingku itu bak oase kecil di tengah gurun. Setidaknya, bagiku. Ada kelegaan ketika mengetahui keduanya masih bersama hingga malam itu. Bagi Jake, mungkin putus dari Dyane mengajarkan dia bahwa Dyane adalah perempuan yang berhasil menguasai seluruh ruang di hatinya. Bahwa dia telah mengalahkan jarak, yang sebelumnya seakan menutup fakta bahwa Dyane adalah segalanya untuknya. Toh hingga saat ini, aku tak menemukan sekalipun dia ‘bermain’ dengan perempuan lain.

“kamu benar-benar mencintainya, Jake?” tanyaku ulang, memastikan.

Dia mengangguk mantap, “Sangat.” Tangannya kemudian mengacak-acak riap-riap rambutku dan memandangku teduh. Pandangan itu, akan sangat terindukan. “Kamu senang, Jane?”

Alih-alih mempermasalahkan helaian ikalku yang berantakan, aku memilih untuk memberikan senyuman terlebar, “Tentu saja! Jangan lupa mengundangku di pernikahan kalian, ya! Ingat itu, Jake!”

.

Sama seperti jernihnya ingatanku akan malam itu, seperti itulah aku mampu mendengar desiran requiem dari lantai bawah kamar Jake. Dentingan piano yang menyayat tubuhku perlahan dan berkesinambungan itu mengalun samar-samar, bergantian dengan isak tangis dari wanita di depanku.

Wanita itu duduk di pelipir ranjang Jake, memunggungiku. Bahunya terangkat berulang kali, seirama dengan sesenggukan yang keluar dari bibir mungilnya. Alih-alih memanggilnya dengan suara paling lirih sekalipun, aku hanya bisa memandangnya dengan nanar.

“Jake… Jake… Jangan pergi…” pintanya tanpa asa, berbisik, dengan tangis yang dia tahan hingga ulu hati. Namun kemudian, deru memilukan darinya memenuhi seantero kamar.

Lagi-lagi, aku hanya bisa menggigit bibir bawahku hingga memutih. Aku mengerjap beberapa saat, menahan nafas agar butiran kristal tidak jatuh dari pelupuk mata. Tanganku kemudian membalik sekali lagi halaman buku harian milik Jake yang sedari tadi aku gapit diam-diam. Jemariku terhenti di halaman terakhir.

If forever was a day, would you talk from your heart?
if forever was an hour, would you take my hand?
If forever was a minute, would you hold me tight?
If forever was a second, would you be glad you were with me? 

Begitu tertulis manis di sana, dengan tinta hitam kelam, dengan tulisan tangan sedikit lebih rapi daripada lembaran-lembaran lusuh sebelumnya.

Kecelakaan yang lebih cepat dari kerjapan mata itu, apa sudah kamu duga, Jake?

Satu kilatan putih sekelebat melewatiku tepat di manik mata, dengan aroma wangi yang menegakkan bulu-bulu hidung. Hanya sekilas, kemudian lenyap.

Dua sudut mataku mencuri pandang sekali lagi pada wanita yang masih memandang kosong jendela di hadapannya. Satu kelopak dari mawar putih kering yang dia genggam rontok, jatuh di atas lantai bertekstur kayu. Aku kehilangan semua kosakata. Lidahku kelu, bahkan untuk sekedar menyebut namanya.

Dyane, Jake melihatmu. Tersenyumlah…

Dan untaian requiem itu, masih saja terdengar.

_________________________________

.:: Fin ::.

.

self note:

my dearest friend, Jake… do you see us from heaven? I miss you. :’)

Advertisements

14 thoughts on “Requiem

  1. singkat tp bener2 Jleb… Kyanya q tw nih jake… *ekhm* *hnya mengira2* feelnya brasa dan q fikir tulisanmu makin bagus unn gk ada typo satupun… Yup jake melihatmu dr surga unn… 😀

  2. ini pertama kalinya aku baca tulisanmu yang orific dan kesannya wah sekali… aku suka… tapi keknya ini bukan saatnya aku ngomentarin soal tulisan kan ya? O.o

    kisah ini so familiar sekali, dan i just wanna say, yang sabar ya dear~

    • eiya, ini pertama kalinya ya? soalnya aku nggak bisa ngebayangin kalo pake nama korea. kayak nggak bakal dapet feelnya gitu. ehehe…
      makasih ya umma…
      hayaahh, dikomenin juga nggak papa sih. soalnya kan ini pertama kalinya juga umma baca orific ku. kekeke!

      yes yes umma, saya sudah nerima ditinggal kok. 🙂

  3. Singkat, awalnya nggak mudeng, tapi begitu denger, sakitnya bikin nyesek ya TT.TT 😦

    Typonya sih sederhana aja unn ..
    Maksudku, bagaimana bisa dia memutuskan hubungannya dengan Dyane hanya dengan alas an sepele seperti itu? — alas & an nya kepisah
    “kamu benar-benar mencintainya, Jake?” tanyaku ulang, memastikan. — ‘K’-nya yang bukan huruf kapital

    unnie, ceritamu begitu keren!

  4. IT’S REALLY Different!
    Gaya bahasa Onni benar-benar berbeda dan berkembang dengan sangat pesat. Diksi yang tepat sasaran dan penuh kata-kata yang tak bertele-tele. Somehow, mengingkatkan saya pada seseorang yang gaya diksinya nyaris sama dengan Onni. Meski milik Kakak itu lebih ekstrem sih karena pembendaharaan katanya sangat luas. Punya onni benar2 bagus!

    Terima kasih atas suguhannya, ^^

    • err… iya ya? kebanyakan baca buku nih kayaknya. -.-a
      hha..
      ehh? masa’? saya nggak mau terlalu ekstrim sih. nanti readers malah nggak bisa enjoy sama ceritanya. dan feel nya jadi nggak tersampaikan kalau saya terlalu berpusat sama diksi. 🙂
      makasiihh dicta.. ^^

  5. Awalanya cuman baca sekilas, nggak ngerti jadi nggak sampe habis…
    beberapa minggu kemudian saiya mampir lagi, kali ini saiya baca sampai habis dan ternyataaaaaaa….
    Kenapa nggak dari dulu saiya baca sampe habis,
    ini bener2 keren…
    alur ceritanya nggak ketebak
    pas baca bagian awal saiya bener2 nggak kepikiran akhirnya bakal tragis

.:: Leave a Note ::.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s