Epilogue : Breaking The Ice

Tittle        :  Epilogue – Breaking The Ice

Author     :  @adiezrindra

Length     : Ficlet

Genre       : Romance

Cast(s)     :  Choi Seung Hyun (TOP Bigbang), Choi Eun Kyo (OC)

Disclaimer :

All publicy recognizable characters, settings, etc are property of their respective owners. The original characters and plot are the property of author of this story.
This story copyright (c) 2012 adiezrindra, all right reserved

Author note :

Yess, ini part terakhir dari Last Kiss dan Chances.

Happy enjoying~!

Foreword :

break the ice

              1. Fig. to attempt to become friends with someone. 
              2. Fig. to initiate social interchanges and conversation; to get something started.

_________________________________________________

.

The moon lights, the clouds shade.
After all the days and nights, the memories of you never fade

. 

Butiran putih selembut kapas jatuh perlahan, beriringan, hingga akhirnya tertumpuk di jalanan sewarna abu. Beberapa butirnya terhenti di puncak kepalanya. Dingin, hingga kemudian butiran itu mencair, menyebar menuju kulit kepalanya. Dia menengadah, menatap bulir-bulir yang masih berkejaran pelan. Dari sudut mata, lelaki itu mampu menangkap matahari yang bersembunyi di balik gelondongan awan putih, seakan membiarkan musim salju ini berkawan dengan hembusan angin yang menusuk tulang.

“Eun Rim…! Ppalliii! Nanti kamu terlambat!” serunya seraya membuka pintu mobil dan masuk menuju kursi kemudi.

Sesosok gadis kecil berlari tergesa dengan menenteng tas di punggungnya. Rambutnya tergerai bebas, menari seiring dengan gerakan lincahnya. Gadis itu dengan cekatan membuka pintu mobil dan duduk di sampingnya. “Nee, appa~! Aku siap!!”

Setelahnya, lelaki itu hanya mengendarai mobil dalam diam menatap jalanan yang lenggang. Masing-masing sisi jalan dipenuhi dengan tumpukan putih bersih, hasil dari hujan salju sepanjang malam.

Akan ada saatnya di satu titik ketika kita benar-benar merindukan seseorang, sehingga segala sesuatunya akan mengidentifikasi satu ingatan berantai, dan menuju satu subjek. Angin yang menyaput pipinya, mengantarkannya pada gadis yang saling menggosokkan sarung tangan wolnya dengan pipi merona dan senyum lebar diantara kedua lesungnya. Dia tersenyum, mengingat dirinyalah yang mengeratkan syal merah di lehernya, berujung pada senyum yang kian merekah.

“Hangaaatt… gomawo, Hyun-aahh…”

Gunungan bak bunga kapas yang menguntai di pinggir jalan itu, membawanya pada gadis yang sama, yang membentuk boneka salju dengan tangannya yang mungil, dengan senyum indah yang sama.

“Hyuuunn… lihat, bonekanya mirip kamu…”

Pada akhirnya, satu kerinduan yang tertahan meruah, meluber hingga dia tak mampu membendungnya. Wanita itu, masih menjelma menjadi bayangan yang merongrongnya untuk mencari keberadaannya. Cinta yang selama ini berhasil dia kurung dalam lobus yang terdalam, seakan terbangun, lepas dan mulai memenuhi pikirannya.

Choi Eun Kyo. Masih dia. Bagaimana kabarnya sekarang? Apakah pipi meronanya masih memberikan kemerahan yang sama? Apakah senyumnya masih mengesankan keceriaan yang sama? Apakah suaminya masih memberikan hari penuh pelangi padanya? Apakah dia bahagia bersama… Kazuya?

Yang paling menyedihkan dari mengingat wanita itu adalah… dia tak pernah memilikinya. Dia adalah milik orang lain. Apa yang lebih menyakitkan dibandingkan mengenang sesuatu yang tak pernah tergenggam? Seakan memeluk asap yang kemudian menguar terbang, tak ada daya. Namun seakan tak terelak, merindunya selalu memberikan rasa yang sama. Rasa pahit yang membuatnya candu.

Jika dulu dia meninggalkan korea dan mengejar Eun Kyo ke Jepang, akankah dia akan lebih bahagia? Jika dia memeluk Eun Kyo dan menahannya untuk tidak menaiki altar dan menikahi Kazuya, apakah dia akan di samping wanita itu sekarang? Jika dia mampu memutar kembali dan melakukan segala keegoisan yang selalu dia dambakan, apakah cerita akan menjadi berbeda?

“Bagaimana sekolahmu, Eun Rim?” tanya lelaki itu, memecah keheningan diantara keduanya.

“Baik,” jawabnya singkat, sebelum kemudian dia memutar bola matanya dan menatap pria itu. “Tumben appa bertanya?”

Senyum dari bibir tipis lelaki itu terulas, bersamaan dengan mata kelamnya yang menyipit, “Memangnya appa tidak boleh tahu tentang sekolahmu?”

“Hehe… habisnya, appa jarang bertanya,” balas gadis itu sembari terkekeh pelan. Setelahnya, kepalanya kembali mengikuti aliran musik rancak yang terdengar dari speaker mobil. Beberapa saat kemudian, dia memanggil ayahnya, “Appa, aku mau cerita~”

“Humm? Anak appa yang paling cantik ini mau cerita apa?”

“Aku punya guru baru di sekolah.”

Pria itu tersenyum lebar, seakan ikut bersemangat dengan anaknya yang bercerita berapi-api, “Gurrae? Yeoja? Namja?”

“Yeoja! Cantiik, tapi badannya keciiill… Kalau dibandingkan sama appa… songsaengnim pasti tenggelam!”

“Hahaha… memangnya appa raksasa?” pria itu tersenyum lepas. “Lebih cantik dari Lee Chaerin songsaengnim?”

Gadis itu berpikir keras, sebelum kemudian dua sudut bibirnya melengkung radial, membentuk senyum lebar, “Sama-sama cantik, aku binguuung… Tapi appa…—”

“Nee?”

Mata gadis itu berbinar, dan menatap ayahnya penuh harap, “Aku ingin punya umma seperti bu guru. Pasti asyik!”

DEG!

Tak ayal, kedua bola mata pria itu membulat, bersamaan dengan jantungnya yang seakan melompat keluar. Hampir saja, dia harus mengerem mendadak mobilnya, jika dia tidak cukup sigap mengendalikan anggota tubuhnya.

“Mwoya? Umma?”

“Nee!”

Pria itu menggeleng pelan, tak percaya. Umma? UMMA??! Oh Tuhan, anaknya benar-benar pandai berimajinasi.

Eun Rim namanya. Anak lincah dengan wajah bak boneka porcelain itu menatap jalanan dengan pandangan menerawang. Sudah pasti dia mulai bermain dengan pikirannya. Sampai sekarang, pria itu sering tak mengerti jalan pikirannya, ide-ide dalam otaknya, maupun tiap kata yang akan terucap dari bibir mungilnya. Gadis kecil itu barang tentu persis seperti ibunya, Park Bom.

Hey, Bommie-ah… bagaimana kabarmu… di surga?

Pria itu hampir saja mengarungi lautan yang memisahkan Korea Selatan dan Jepang, jika dia tidak menemukan hasil rontgen di laci meja rias Park Bom. Kanker ovarium, begitu terkatakan. Stadium III. Dia tak perlu menjadi dokter hanya untuk mengetahui seberapa besar rahasia yang disembunyikan istrinya darinya. Setelah malam yang mengejutkan, argumen tanpa henti, yang berakhir dengan isak tangis, dia memutuskan untuk tinggal. Melepas segala ego dan mimpinya tentang kebahagiaan bersama Eun Kyo, untuk Park Bom dan Eun Rim.

Bukan, bukan berarti dia tidak mencintai Bom. Tentu saja, dia mencintainya. Namun akan menjadi berbeda ketika dia mulai membandingkan arti wanita itu dengan Eun Kyo. Bagaimana dia harus mengatakan? Ada debaran yang begitu bersemangat meremukkan tulang rusuknya, kupu-kupu yang berterbangan di sepanjang rongga perutnya, posesi yang mengular ke sekujur tubuhnya. Lebih jauh lagi, dia mampu membayangkan tiap jengkal tubuhnya, beriringan dengan gairah yang kemudian menyatu dalam dirinya.

Complicated. Heart and he always complicated.

Bom kemudian pergi meninggalkannya dua tahun kemudian, ketika Eun Rim masih di usianya yang keenam. Gadis itu baru saja mengenal warna warni dunia, untuk terpaksa mengenal warna terkelam yang dikenal manusia. Butuh waktu satu tahun untuk mengembalikan sosok Eun Rim seperti semula. Walau selayaknya cermin yang pecah berantakan, segalanya tak akan kembali seperti sedia kala. Setidaknya, dia masih bisa melihat senyum tulus yang tersungging di wajah mungil putrinya. Setidaknya Eun Rim mau membuka matanya kembali, untuk kemudian mencari warna lain yang sempat memudar.

Setidaknya, Eun Rim masih berada di sisinya. Itu sudah lebih dari cukup baginya.

“Memangnya appa saja tidak cukup?” tanyanya kemudian.

Eun Rim tersenyum tipis, “Tentu saja cukup, appa…” lalu, tangan kecilnya meremas roknya sembari bola matanya mengedar dan menatap ayahnya, “Tapi Eun Rim ingin punya umma…”

Kkeuutt.

Tentu saja. Putrinya butuh seorang ibu. Dia hanya sembilan tahun!

Setelah dia kehilangan Eun Kyo lima tahun yang lalu, Park Bom tiga tahun yang lalu, masih bisakah dia menerima orang lain di hatinya, sekalipun itu untuk Eun Rim? Dia sendiri bahkan tak yakin. Hatinya sudah begitu lama membeku. Lebih tepatnya, dia sudah lama membekukan hatinya. Tak mengizinkan seorang pun menggantikan tiap celah terganti.

Pria itu menatap anaknya iba. Umma? Apakah mungkin?

Mobilnya berhenti tepat di depan gerbang Seoul Academy, tempat Eun Rim bersekolah. Pria itu turun dari mobilnya dan membukakan pintu untuk gadis kecil yang masih sibuk merapikan penampilannya, “Eun Rim, sudah sampai. Turun, sayang.”

Gadis itu kemudian turun dari mobilnya. Sesaat kemudian, senyum kecilnya mengembang, tertarik kian lebar dari telinga kiri ke kanan. “Appa, itu ibu guru yang aku ceritakan!”

Dahi ayahnya mengernyit, lalu matanya mengedar ke sekeliling, “Eh? Mana?”

Tangan Eun Rim mengulur, menunjuk seseorang yang berjalan mendekat, “Ituu…~ appa tidak lihat?” Dia kemudian berlari menghambur sosok itu dan memanggilnya riang, “Choi songsaengnim~~!!”

Sontak kedua mata tegasnya terbelalak lebar. Tubuhnya mematung, seiring dengan keterkejutan yang membekap dirinya. Jantungnya sudah bisa dipastikan terlontar keluar dari rusuknya , pergi entah ke mana. Dia kini tak bisa berpikir apapun, merasakan apapun, maupun mendengar apapun…

hingga suara melodik yang selalu mengantarnya dengan sejuta kenangan menyerunya.

Wanita itu…

“Choi Seung Hyun?”

.

 .

Rains drop, waters flow
I wish my heart could stop, but how to quit loving you I’d never know

.

Putih yang sama. Lembut yang sama. Dingin yang sama. Tak akan pernah berbeda segalanya dibandingkan dengan bagaimana musim-musim yang sama terlalui. Beberapa bulir yang kontras dengan genting coklat, perlahan jatuh, melebur dalam gunungan putih yang menyelimuti rerumputan. Seakan ingin berlama dengan lembab, awan anvil masih berarak menutup sinar kemerahan.

Menakjubkan adalah, bagaimana segala sesuatu yang terjadi berulang, selalu mampu menggiringnya pada kenangan dalam ingatan.

Bulir lain dari tempat yang sama kemudian jatuh, menutupi rumput hijau yang baru saja mengembun. Di hadapannya, dia mampu melihat sekilas bayangan di bias mata, lelaki tambun yang mengusap surai rambut gadis ikal, menghilangkan warna putih diantara helaian kelamnya.

“Kyo-yah… rambutmu putih semua…”

Dia tersenyum.

“Ummaaa, kenapa diam~?”

Wanita itu tersadar, dan menatap anak kecil yang sudah berdiri lengkap dengan seragam TK dan senyum lebar dari bibir tipisnya. Senyumnya melebar sembari tangannya mengulur menggenggam jemari mungil putra kecilnya, “Aahh, mianata, Danny-ah… Kajja, nanti kamu terlambat.”

Bagaimana caranya dia menutup sekian banyak ingatan tentang lelaki itu, jika anak kecil yang kini berlari di depannya, memiliki wajah yang serupa dengannya.

“Kyo-yaahh… cepat larinya, nanti terlambat…”

Wanita itu menggigit bibir bawahnya, getir.

“Ummaa… cepaaatt…” lambai putra kecilnya bersemangat. Kedua sudut bibirnya tak kunjung berhenti menampakkan tawa riangnya.

“Danny-aahh… hati-hati sayang. Nanti jatuh…”

Seung Hyun. Lelaki tambun itu menjelma menjadi pria yang luar biasa menawan ketika mereka beranjak dewasa. Dia masih bisa mengingat setiap incinya dengan jelas. Dia masih mampu menggambarkan gurat matanya yang tegas, bibirnya yang tipis, dan lesung di kedua pipinya, walau segila mungkin dia mengubur lelaki itu dalam-dalam. Namanya terpahat sempurna, dalam diam yang paling tajam.

Bagaimana kabarnya sekarang? Ah, dia sudah pasti berbahagia dengan Bom dan anaknya— entah siapa namanya.  Apakah mata tajamnya masih memandang Bom dengan cinta? Apakah senyum hangatnya masih terulas untuk Bom?

Oh Tuhan, dia masih saja merasa cemburu jika mengingat Seung Hyun bersama Bom. Apa-apaan ini, betapa hatinya seakan terlepas dari kontrol dirinya. Seung Hyun bukan miliknya, dan dia harus menggenggam kuat kata-kata itu. Tapi seperti ucapan yang kemudian selalu dia khianati, Harapan tertinggi justru ada pada seseorang yang tidak kita miliki.

Dia bukan siapa-siapa. Bukan pula temannya. Berpikir apa dia ini?

Seung Hyun, apakah dia bahagia sekarang?

Salahkah jika dia berharap, lima tahun yang lalu, Seung Hyun meninggalkan Bom dan menyusulnya ke Jepang? Tentu saja salah. Namun masih dengan alasan yang sama. Cinta selalu membuatnya berharap lebih. Bertemu dengan Seung Hyun, bercinta dengan Seung Hyun, menikmati setiap suara serak dan dalam memanggil namanya, tak membuatnya puas.

Jauh di sudut hatinya, sedalam apapun dia mencoba menutupinya…

Dia menginginkan lelaki itu.

“Umma… kenapa ojisan tidak ikut kita pindah ke sini?”

Wanita itu tersadar, dan memandang anaknya penuh tanya, “Ojisan?”

“Nee, umma. Kazuya-san. Kenapa dia tidak ikut pindah ke Korea?”

Daniel. Dia memberi nama anak itu Daniel. Anak yang selalu mencuri perhatian dengan raut wajah tegasnya, dan suara riangnya. Di umurnya yang baru menginjak lima tahun, dia harus ikut pindah ke Korea. Lebih tepatnya, ke kampung halamannya.

“Danny-ahh, Kazu-san kan harus bekerja di Jepang. Kita tidak bisa mengajaknya ke sini…”

“Tapi Danny kangen ojisan… Kenapa umma tidak menikah dengan ojisan saja sih? Jadi ojisan bisa ikut kita ke sini…”

Yeah. Kamenashi Kazuya. Anaknya begitu lekat dengan pria itu. Pria yang nyaris menjadi pendamping hidupnya. Pria yang masih peduli padanya, sekeras apapun dia menghindarinya.

Lima tahun berlalu, dan masih segar ingatan dia meminta Kazuya membatalkan pernikahan mereka. Dia tak ingin melibatkan Kazuya dalam hidupnya, setelah dia mengetahui ada Daniel dalam tubuhnya. Ya, pertemuan kecil yang berlanjut hingga pagi dengan Seung Hyun, memberikan hasil positif pada test pack yang diujikannya dua minggu kemudian. Bagaimana bisa dia melibatkan orang lain untuk bertanggung jawab atas sesuatu yang bukan perbuatannya?

Kazuya sebenarnya mau tetap menikah dengannya dan membesarkan Daniel bersamanya. Tapi… dia tak bisa. Kazuya pantas mendapatkan wanita yang lebih baik, dan itu bukan dirinya. Namun seperti Kazuya yang dia kenal, lelaki itu tetap bersikeras mendampinginya selama mengandung dan bersalin. Bahkan hingga kini, dia selalu menganggap Danny selayaknya anaknya sendiri.

Such a perfect man.

Apa yang diharapkannya kemudian?

Seung Hyun datang padanya? Berharap lelaki itu bertanya siapa Danny, kemudian dia mengaku, dan mereka berpelukan? Hah! Ini bukan cerita dongeng. Fool. Sedalam apapun dia mencintainya, dia tak pernah berani berharap terlalu mulus. Kesempatan mereka sudah habis tak bersisa.

Dan tak akan pernah ada cerita lagi kemudian.

“Sepi? Kan masih ada umma di sini?”

Anak kecil itu menggembungkan pipinya, “Beda, umma… Umma tidak bisa main bola, tembak-tembakan, main koboi…”

Wanita itu terdiam. Ada rasa teremas di hatinya seiring dengan gigitan kecil di bibir bawahnya. Tentu saja, apa yang diharapkan seorang anak kecil dibandingkan sosok seorang ayah?

Sosok yang mungkin tidak akan pernah bisa dia berikan. Porsi Seung Hyun begitu besar di hatinya, membutakannya terhadap pria lain.

“Choi songsaengnim~~!!”

Sebuah suara melodik memanggilnya. Dia mencari sumber suara dan menemukan seorang gadis dengan rupa bak porselen tersenyum ke arahnya. Bahkan dia belum menjawab panggilan itu, ketika matanya melihat seseorang.

Seseorang yang tak mungkin tergapai.

Matanya hanya terpaku menatapnya, begitu pula dengan tubuhnya. Jantungnya seakan menggelembung dan memenuhi ruang dadanya. Suaranya bergetar tak percaya, “Choi Seung Hyun?”

“Choi Eun Kyo…”

.

When a chance comes to us again, what will I do? Will things change for the better?

______________________________________________

fin.

.

Advertisements

23 thoughts on “Epilogue : Breaking The Ice

  1. umma… Sumpah itu nusuk bangt td aku udh berkaca2…. Tp roma2nya happy ending nih hehe XD bagus ko cuma “Oppa, itu ibu guru yang aku ceritakan!” mungkn mksdnya appa x ya XD ah cuma kslhn kecil.. Feelnya berasa bayangn2nya(flashback) jg bsa msk… Tp apa daniel tau Seunghyun bapanya? Dia kn pngnnya ma kazuya?? Bagus umma.. *prok prok prok

    • uwoooo~~ aku pikir malah bakalan datar2 aja. soalnya kan banyakan dekskripsinya gituu. hihii…

      humm… happy enggaknya sih terserah mereka. pokoknya mereka sudah saling ketemu dengan status mereka yg single. bebas dehh mereka mau ngapain. kekeke~~

      GYAAAA~!!! iyaa, itu harusnya appaa!! ><
      omomomomomo~ si eunrim manggil sapa kamu naaakk.. T___T

      itu si daniel gak tau kalo tabi itu bapaknya, kan dia maunya sama kazuya. hihi…

      makasih ya dear udah di proofread-in. :***

  2. ngerti .. ngerti banget akhirnya *pth*
    ya ampunn .. akhirnya berakhir dengan manis yang menggantung 😀
    mau proofread hal yang sama kaya comment diatas, tapi karena udah jdi gk jadi .. kekekekek ..
    DAEBAK unn!

  3. aigoo kenapa gantung eon..
    ayo eon buat mereka nikah
    atau anak2nya aja yg saling jatuh cinta
    *loh?

    oya eon,
    duduk ‘disampingku’
    mungkin ini maksudnya ‘disampingnya’ kah???
    ini author pov kan eon?
    *mian banyak tanya*
    heee

  4. Jadi Tabi selingkuh gitu? -__- tega nian sama Bom…
    Pertemuan yang berlanjut hingga pagi? Asal muasal ketemunya gimana ini?ehehehe….
    Punya dua anak deh, sayang Dani-nya lebih suka Kazuya… yo weis…gimana mereka aja deh… Untuk tabi gak ngikuti egonya ya.
    Sukaaa 🙂

    • humm.. karena ini cuma epilog, mungkin lebih baik baca 2 cerita awalnya dulu, biar ngerti.. 🙂
      iyes, punya dua anak. dani kan lebih sayang kazuya krna dia nggak tau ada tabi. 🙂
      hha… yaa enaknya mereka aja deh gimana… 😀
      makasihh…

  5. Speechless, sumpah. Unnie buat aku gk tau harus bilang apa.
    Ini ff bener2 daebakk!!
    Aku suka kata2nya, cantik dengan makna yg mengena
    Aku sukaaaaa bangeeettt!! ((y)ˆ ³ˆ)(y)

  6. aigoo … terharu bgt sama perkataan polos eun rim ” Aku ingin punya umma seperti bu guru. Pasti asyik!” ….
    kasihan eun rim … ohhh ja bommie meninggal …

    eh …. eun kyo … ga jadi nikah sama kazuya gara2 hamil anak seung hyun – Danny … ? dan memutuskan kembali ke korea ?

    huahhhh kok 2 2 nya nasib nya jg merana sih ????????????
    eh … jd guru yg di sukai eun rim itu eun kyo ? wah itu di sebut DESTINY ya?

    YAHHHHHH kok gantung sih ????????????????????
    pengen tau lanjutannya … apa eun kyo – seung hyun bersatu ga ?

    • merana, tapi begitulah hidup. 🙂
      maybe yes, itu destiny. Bagaimana hidup memiliki konstelasi rumit untuk memisahkan, dan mempertemukan kembali.
      heungg… nggantung? kan asik.
      kamu jadi bisa berimajinasi kan kalo begini?

  7. ini ga fair!!! epilog tpi ttep buat pnasaran ky gini… gmna eonni????? q minta sequel lg.. mreka hrus nikah and haappy end.. oc?! gak mau tau..”!! ##maksa

  8. wow akhirnya ini happy ending dengan cerita yang tak terduga
    agak gantung sih dan berharap ada sequel tapi gapapa sih happy ending juga 😀
    jinjja daebak author
    setiap katanya itu kayak sajak bikin aku sebagai reader menghayati bacanya
    puisi” yang terselip juga keren
    author jjaaaang ^^

.:: Leave a Note ::.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s