Too Late

*

Aku merindukanmu, yang bahkan tak menyadari keberadaanku. Sesederhana itu.

(Ri, 2012)

.

”Ya ampun… Kantong matamu kenapa makin besar, Ri?! Kamu nggak tidur atau gimana sih?” jemari mungil dengan kuku berwarna peach menyusuri bawah mata lelaki di hadapannya. Ekspresinya menunjukkan kecemasan yang akhirnya tak terjawab. Lelaki itu hanya mengukir senyum tipis. Tangan kokoh dari sosok diam itu menyentuh pergelangan tangan yang kini berhenti di sudut matanya dan menjauhkan dari wajahnya. Kemudian jari-jari lentik itu menyusup di sela miliknya, menggenggamnya erat seraya menyeringai kecil. Mimik menggemaskan yang terbingkai bentuk wajah yang sempurna itu membuang pandangannya ke arah langit, tak mempedulikan efek sentuhannya yang setara dengan sengatan listrik.

“Rin, apa kamu pernah, rindu pada rasa dirindukan olehku?” tanya sang lelaki  tiba-tiba, meletus dalam keheningan.

“Eh, Ri…?” genggaman tangan yang mengikat mereka seketika terlepas, ketika sepasang mata kucing dari si gadis menatapnya terkejut.

“Maaf…” lelaki berwajah tegas itu hanya mampu mengungkapkan sepenggal kata untuk gadis di hadapannya. Sejenak dia menatap senja yang semakin mememar, dengan pusatnya yang seakan hendak tertelan tanah, sebelum kemudian menatap sepasang mata itu kembali. “Mungkin kamu ingat, aku pernah mengungkapkan perasaanku padamu. Bahkan setelahnya pun, tak sedikitpun rasa itu terkikis. Dan jika kamu tahu, aku selalu merindumu, bahkan ketika kamu pun tak menyadari keberadaanku, sesederhana itu. Tenagaku tak sanggup untuk mengelak. Kapan kamu akan menyadari perasaanku, Rin?”

Mata sewarna hazel itu hanya bisa membalasnya dengan tatapan bersalah. Ada genangan di pelupuknya yang bersiap untuk meluncur, namun belum terkomando. Gadis itu hanya menggigit bibir bawahnya tipis, dan berbisik lirih, “Maaf… Ri, aku… tidak bermaksud…”

“Aku tahu,” potong lelaki itu seraya memainkan rambut hitamnya dengan jemari tangannya dalam sekali kibas. “Aku tahu, Rin. Matamu, hatimu, perhatianmu, hidupmu, hanya tercurah untuk Ji. Tidak akan ada yang tersisa untukku. Tidak akan ada tempat bagiku di hatimu, walau hanya seselip namaku. Aku tahu, Rin…”

Hening kemudian. Keduanya hanya terdiam, bersandar pada pagar besi pembatas bukit, seraya menatap kosong hamparan jingga yang hampir padam.

“Rin, apa aku boleh berhenti berlari, Rin? Apa aku boleh berhenti berharap? Aku lelah, Rin…”

Tetesan jernih itu akhirnya sukses meluruh. Beberapa mengarah ke surai rambut pirang terangnya yang terbuai angin. Gadis itu tak mampu berkata apapun untuk membalasnya, tak juga secuil kata untuk menjawab pertanyaan itu. Dia tahu, itu hanyalah sebuah kalimat retoris tanpa perlu tanggapan.

“Kamu dulu pernah bilang, ‘jangan menungguku, aku tak bisa memberikan kepastian untukmu.’ Apa itu artinya… aku boleh menghentikan langkahku, Rin…?”

Tidak juga penolakan.

Setidaknya dari bibirnya, setelah lelaki itu terus mengharapnya yang mengharap manusia lain. Betapa lingkaran dari mereka tak pernah menemukan ujungnya.

Tangannya bergerak mencengkeram lengan kemeja flanel lelaki itu, “Ri, please… jangan–“

Biasanya dia tidak akan setega ini mencecarnya dengan ucapan semenyakitkan ini. Biasanya dia tidak akan sampai hati melihat mata itu terpenuhi air matanya sendiri. Biasanya dia tak akan pikir panjang untuk menariknya masuk dalam pelukannya. Tapi tidak untuk kali ini, ketika dia harus membekukan nuraninya. “Maaf, Rin… Maaf…”

Tangan lelaki itu melepaskan jemari gadis itu dari bajunya, dan berpindah mengusap surai halus rambutnya dengan lembut. Untuk terakhir kalinya.

“Berbahagialah, Rin. Karena bidadari pun tersenyum padamu.”

.

Langkah panjang lelaki itu tidak terhenti sekalipun, walau hanya untuk melirik sekilas ke belakang. Dia hanya mendesah perlahan, tak mengerti apakah dia harus menyesali keputusannya atau tidak. Tangan kanannya kini membuka kertas lusuh yang sedari tadi dibawanya. Surat penugasan.

‘Lyon, be nice to me…’

.

Gadis itu dan langit yang terus memekat hanya mampu membiarkan bayangan lelaki itu menghilang, sendiri. Jemarinya kemudian hanya melingkari pagar dihadapannya kian keras, mencoba menahan derasnya air mata yang meluncur jatuh. Apapun suara yang keluar kemudian, hanya untuk didengarnya sendirian. Hanya untuk ditelannya tanpa seorang pun yang bisa mendengarnya.

“…Jangan pergi.”

“Jangan pergi, Ri! Jangan…”

“I love you too, Ri…”

.

(Rin, 2012)

Manakah yang lebih dulu tenggelam, punggungmu yang merapat di tikungan jalan, atau senja yang samar, lalu hilang…

Advertisements

15 thoughts on “Too Late

  1. hoooo….

    aku udah baca… tapi bingung mau ngomen apa… aku bacanya tadi pagi tp lg ga bisa inetan dan skrg aku lupa mau ngomen apa… #gubrak
    hahaha…

    umph… well… pokoknya intinya aku nyaman aja bacanya. titik.

    eh, tumben komenku pendek euiii.. hehehehe… :p

  2. nyesek.. walopun ga sampe nangis. ga mbingungi kok dis…
    aku suka, dan selalu suka tema one-side-love… hihi…

    sering2 bikin angst yak.. hihihi << doyan mewek

  3. Sediiih ….
    Ini udah abis nih?
    Boleh ga aku minta tambah, eonn ?
    *plakkkk duagh duagh jblakk* #dipukulin eonni adiez

  4. kenapa segitiga sama sisi susah dibikin, karna buat gada yang tersakiti di cinta segitoga itu rasanya ga mungkin, #ngaco, abaikan..
    tapi, gada niatn buat bikin lanjutannya ka? ini keren,
    1. tak mempedulikan efek
    sentuhannya yang setara dengan
    sengatan listrik. << setau aku, mempedulikan itu agak aneh ka, di kbbi dan lebih sering denger 'memedulikan'
    maapin ya kalo sotau.

.:: Leave a Note ::.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s