Last Kiss

Tittle        :  [Ficlet] Last Kiss

Author     :  Adiez-chan

Length     : Oneshot

Genre       : Angst, sad, romance

Cast(s)     :  Choi Seung Hyun (TOP Bigbang), Choi Eun Kyo (OC)

Author’s note : well, budayakan comment yaahhh~ happy enjoying!

______________________________________

.

Bagaimana harus memulai cerita ini? Dari langit jernih yang terpenuhi oleh corak jingga dan merah, mungkin. Semburat tak beraturan di hamparan itu memadu, menjadikannya abstrak, namun artistik. Mungkin Picasso pun tak akan berhasil menangkap segala detail coraknya dalam kanvas kecil miliknya. Tepat di garis horizon yang seolah memisahkan langit dengan puncak bukit tempatku berdiri, matahari itu terbenam perlahan, seakan masuk dalam perut bumi, hingga esok dia kembali ke singgasananya.

Disinilah, aku menatap segala fenomenanya dalam diam. Menikmati setiap nano detik yang terlewat, sendiri. Sudah berapa lama aku tidak ke tempat ini, berdiri di sini, dan menyesapi waktu yang berhembus? Bukit kecil ini tak pernah punya nama, setidaknya aku tak pernah mendengar orang lain menyebutnya dengan sebutan nama. Aku bahkan tak yakin ada yang mengetahui tempat ini. Keberadaannya tertutupi oleh hamparan padang golf di bawah bukit, hingga kebanyakan dari mereka hanya akan terhenti dan terpuaskan di tempat itu sebelum mencapai puncak ini.

Aih, sepertinya aku kelewat keras untuk berusaha menyingkirkan tempat ini dari ingatanku, dan mengingatnya lagi, seakan seperti membuka kotak Pandora. Too much and painful. Aku memejamkan mataku barang sejenak, dan menarik nafas hingga klimaks, dan menghembuskannya perlahan. Kedua sudut bibirku mengulaskan senyum tipis, getir. Tuhan, seharusnya aku tidak perlu lagi merasa perih ketika aku memutuskan mengunjungi tanah ini.

Beautiful view, right?”

Aku tersentak sejenak, diikuti dengan deru jantung yang tiba-tiba terpacu. Rasanya aku bisa merasakan jutaan partikel adrenalin itu mengerutkan pembuluh darahku, menjadikan darah yang terlewat berdesir dengan cepat ke seluruh bagian tubuhku. Suara bass itu dengan sepersekian detik saja, sudah mampu kuidentifikasi, tentu saja disertai dengan bagaimana segala ingatan yang saling berkait. Ingatan yang sesungguhnya ingin aku singkirkan. Kedua pelupuk mataku terpisah perlahan dan beralih menatapnya. Memang dia. “Ah yeah… beautiful.”

Hening. Tak ada sedikitpun diantara kami yang berusaha memecahkannya, seolah bagaimana surya itu menghilang telah mencuri segala perhatian yang tersisa. Setidaknya mungkin baginya. Bagiku… aku tak tahu apa yang saat ini kupikirkan. Terlalu kalut dan kusut.

Dari 365 hari yang disediakan Tuhan untuk dilalui, kenapa dia harus berada datang ke sini hari ini? Pria itu, sekian lama aku berusaha menghapusnya dari otakku. Namun ketika kini dia berdiri tepat di sampingku, setiap detail dari dirinya yang dulu bisa aku gambarkan dengan sangat tepat di dalam pikiranku menyerbu dengan liar. Tatapan mata yang tajam, kontur wajah yang tegas, bibir yang tipis dan… senyum yang tak ubahnya seperti anak kecil. Semuanya tak berubah. Oh crap! Usahaku melupakannya benar-benar gagal. Choi Seung Hyun, kamu benar-benar menghancurkan segalanya.

“Bagaimana kabar Bommie?” tanyaku kemudian. Damn! Kenapa aku menanyakannya? Memangnya kamu siap dengan jawabannya? Aku benar-benar mengutuk diriku sendiri dalam hati.

“Baik. Dia sedang mengandung anak kami sekarang…” jawabnya, hati-hati.

Anak? Perfect life then, yeah…

“Oh ya? I can’t imagine how perfect this baby soon. Combination of a Barbie with a most manly man of Korea,” ucapku dengan diiringi satu ulasan senyum pahit.

Hening, sekali lagi. Apa lagi yang seharusnya aku rasakan selain ikut berbahagia? And believe me, almost impossible for me to feel it without pain.

Eun Kyo-yah…” panggilnya, tanpa ada jawaban dariku. dia beralih menatapku dan melanjutkan, “I still love you.”

Aku menggigit bibir bawahku. “Ah… thanks, Seung Hyun. But let me refresh your brain, you have wife who love you.”

“But you know why I married her, Kyo-yah…”

“I know. You love her.”

Lelaki itu menyentuh pundakku pelan, menatapku dengan memelas, “Kyo, please. Kamu tahu bila aku menyadari perasaanku padamu setelah aku sudah menjalin hubungan dengannya.“

Aku berusaha membalas tatapannya dengan ekspresi bak mannequin, poker face. Aku tahu, aku gagal melakukannya. Caranya menatapku selalu membuatku merasa ditelanjangi. Seakan dia mampu menguliti apapun yang terlintas dalam benakku. “Seung Hyun, we were best friend before she came, and I wished we still like that when she appeared in our life. But no, everything went in different way. Keberadaannya membuatku menyadari, bahkan setulus apapun persahabatan yang aku inginkan, itu tidak akan pernah ada kata ‘selamanya’. Her jealousies…”

“Not like this, Kyo…”

“Jebal, Seung Hyun. Let me keep this thought. Ini akan membuatku jauh lebih mudah untuk melanjutkan hidupku.” Tanganku menepis sentuhannya di pundakku kasar dan beralih berusaha menutup kedua telingaku serapat mungkin. Aku tidak ingin mendengar apapun lagi dari bibirnya.

Kali ini dia memandangku dengan terluka, rasanya jauh lebih sakit dari sebelumnya, seakan berusaha menembusku hingga jantung. “But we were more than just best friend. I know this feeling still exists in both of us.”

Kepalaku menggeleng pelan. Aku mampu mendengar setiap kata yang terlepas dari bibirku dengan bergetar, menekan rasa sakit yang sama. “No. You wrong. We were best friend and never more than this.” Aiissh! This pain… more and more hurt me.

Segalanya terasa terasa sangat menyakitkan ketika kedua tangannya bergerak mengelilingi tubuhku dan aku harus menahannya. Untuk segala yang telah aku kubur hingga tak berbekas, akan lebih baik jika masing-masing dari kami tidak saling menyentuh. Aku mendorong dadanya perlahan, menjauhkannya dari tubuhku, hingga kedua lengannya tak berhasil merengkuhku. “Please stop here, Seung Hyun. You have Bommie.”

Aku takut aku akan kembali jatuh dalam palung yang sama. Aku benci mengulangi episode kelam itu sekali lagi.

“Lalu kenapa?!”

Bibirku terkunci. Perlukah pertanyaan seretoris itu kujawab? Aku menatap langit yang sejak tadi telah berubah warna. Hitam terus menjalar tanpa terhenti, memekat, memberi ruang untuk setiap kilau bintang. Syukurlah, setidaknya ekspresi hancur ini tidak akan mampu ditangkapnya dengan jelas. “Sepertinya aku harus pergi. Sudah mulai malam dan aku masih ada pekerjaan lain. Anggap saja hari ini tidak pernah terjadi dan kita tidak pernah bertemu. Bommie is waiting you.”

Segalanya terasa sangat lambat ketika kamu tak menikmati setiap detik yang ada. Aku melangkahkan kakiku dengan cepat, tapi tetap saja, meninggalkannya selalu terasa sangat menyakitkan. Dan rasanya jalanan itu bergerak mundur, dan aku hanya berjalan di tempat. Lambat.

“Eun Kyo!”

Aku mendengarnya dengan sangat jelas, dan aku tahu, aku harus berhenti menghiraukannya. I need to stop this feeling. Kakiku terus melangkah dengan kedua mata yang terpejam. How hurt… My tears, please don’t come out…

Tersentak. langkahku terhenti seketika ketika aku merasakan kedua tangannya yang kekar berhasil merengkuhku dari belakang. Wangi maskulin yang khas seketika menusuk hidungku. Punggungku dan dadanya saling menyentuh, memberikan desiran yang tak terelakkan. Untuk beberapa detik yang berlalu, aku hanya terdiam.

No! That’s not right. Tidak seharusnya aku mendapatkannya. He’s Bommie’s. Aku memberontak, mengerahkan tanganku untuk berusaha melepaskannya. Tapi ada saatnya aku harus teringat bahwa tubuhnya yang dipenuhi dengan otot sangat berbeda denganku yang kecil. “Apa yang kamu lakukan, Choi Seung Hyun?! Let me… euggh…”

Dia mempererat pelukannya, hingga aku tak mampu lagi untuk sekedar berpindah. “Biarkan seperti ini sejenak, Eun Kyo. Let me hug you.”

Damn. His voice always makes me weak. Aku pasrah, membiarkannya memelukku. Bagaimana aku harus mengungkapkannya, aku tahu ini tidak benar, tapi aku tidak bisa memungkiri satu kenyataan, I love his embrace, like ecstasy, I want it more and more.

“I love you, Eun Kyo…” dia membenamkan wajahnya di pundakku, berbisik tepat di telingaku. Aku bisa merasakan makna dari kalimat sederhana itu, tapi aku…

“Bommie love you more,” desisku, lemah. Satu kristal jernih akhirnya berhasil jatuh dari pelupukku. Yeah, that’s true. Bommie adalah istrinya. Tak ada yang meragukan betapa besar cinta wanita itu untuk pria ini. But why is my heart ache? Hurt…

“But I need you…”

“Bommie need you more, Seung Hyun. You know it, right?”

Seung Hyun membiarkanku melepaskan pelukannya. Aku berbalik dan menatapnya. Dalam posisi yang hampir tak berjarak, aku menatapnya tepat di manik mata. Dia… rapuh. Mungkin sama rapuhnya denganku. Atau mungkin segala kekuatan yang selama ini kami pertahankan hancur ketika akhirnya kami bertemu. Seakan sandiwara yang sedang kami perankan, terhenti untuk sementara, memberi ruang untuk masing-masing dari kami kembali pada nurani. Sebelum kemudian, kami harus menjalani semuanya sesuai skenario.

“Bommie really love you, Seung Hyun. I know her love is more than I am. You deserve get one best. I don’t think she can live without you. Even you will have one baby, won’t you?” Suaraku bergetar, sekuat tenaga aku mengatakannya. Sekuat tenaga aku menekan rasa sakit yang terus berpendar tanpa jeda.

“But I can’t live without you.”

“You can, Seung Hyun.”

“And you—“

“I can. I can live.” Satu tetes lain akhirnya jatuh seiring ucapanku terucap. “Believe me, Seung Hyun.”

Dia menghela nafasnya, menyerah. Bola matanya menatapku dengan luka yang sangat, sakit yang hebat, dan mungkin… iba yang terlintas. Mungkin baginya aku terlalu keras kepala, terlampau memaksakan diri untuk sekedar ‘bertahan’. Aku menghapus air mata yang masih berusaha mencurangiku ketika kedua telapak tangannya menyentuh pipiku. Bibirnya kemudian menyentuh bibirku, lembut dan dalam.

“Sse—“

“Let me taste your lips, for the last time,” desisnya sebelum dia menikmati bibirku lagi.

Hell yeah, I always weak. Aku membiarkannya menciumku. Nafasnya yang hangat seketika menjalar ke seluruh wajahku, begitu pula dengan aroma rokok mintnya yang tersamar. Oh my, this sensation… I can’t hold it anymore. Kedua tanganku kini bergerak, melingkari lehernya, menekannya untuk menciumku jauh lebih dalam. Tangannya bergerak merengkuh pinggangku, menghapus jarak yang tersisa. Aku menyerah sepenuhnya pada perasaanku, membiarkan lidah kami saling beradu, membiarkannya menyusuri rongga mulutku, hingga… “Promise me, Choi Seung Hyun, this is our last kiss.”

____________________________________

-fin-

Euuu… jelek ya? pendek ya? gak jelas banget ya? Plis jangan bakar sayaa.. T___T

Ini cuma hasil penggalauan kok, maunya sih bentuk ficlet, tapi rasanya kepanjangan. tapi tetep aja pendek. Deuh. rempong dehh.

Yang menunggu FF series saya, euu… berdoalah biar saya cepet selese. hhee. dipassword nggak? liat aja nanti. hhe.. 😀

ahh, jangan lupa komen dong~

gomwoyoooooooo…~

Advertisements

36 thoughts on “Last Kiss

  1. Ahh…karena kayaknya ini prekuel dari fic kmu yg mau aku ceki-ceki itu, jd aku msti bca yg ini dulu ya… Hhaha… And… Done…. :p

    3 words; bener-bener penggalauan!
    LOL

    justru, last kiss yg begituan mah yg kyk ngebuka kotak pandora… Menggoda namun ternyata bawa petaka. O.o

    • sebenernya dulu itu cuma pengen bikin yg ini, eh tapi otakku malah nyabang kemana2. XD~

      iyaaa… bikinnya bener2 galau, gara2 abis baca topbom. ><
      jadi pengen ta'makan aja itu bommie. :p

      ehem. kiss yang… malah bikin inget mulu. dodol bgtt yee? 😀

  2. gamau jatuh ke palung yg sama, tp kisseu yg begini sih semacam dengan sengaja nyemplung ke palungnya. yes, bener kata umma, malah buka kotak pandora-nya.

    galau maksimaaalll..

    • Haha..
      Kadang hati ga sejalan sama otak. Sekuat apapun pikiran mengatur, bakal kalah sama hati yg bicara. #eaa~
      Kotak pandoranya udq kebuka kan? 😀
      Wkwkwkwk.

  3. ADIIIEZ!! aku dateng dengan segala unek-unek di hati *tebar bunga 7 rupa*

    gak tau kenapa pas baca ini, mungkin entah kebawa suasana atau gimana jadi langsung kangeeeeeen bgt sama tulisan macam gini. aku jadi deg”an tau! hahaha serius ini gak boong. kangen sama bang top. TT____TT as usual de, kamu itu masuk dalam jajaran author yg mumpuni menurut versi majalah zantz tahun 2012 LOLOL

    pernah denger kata-kata, “You’re mybe not my first, but I’m sure you’re the last.” nah itu mirip!! bener kata kak shirae klo yang terakhir itu yang paling dikenang, yang paling ngena, yang bikin galau. baca ini sambil denger blue…..pas bgt!! XDD

    yuk mari dilanjuuut XDD

    • Haha.. Welcome, unyii…

      Lah unn, emg unnie biasany baca yg model apa? :/
      Kangen bang TOP? Itu punya sayaaa~ ><
      Aduh unnie, saya mah masi amatiran, author mumpuni sih ya unnie sndiri. Hehe..

      Yang terakhir itu, yg paling bkin galau.. Yg paling bkin kangen. Kisseu tabi lagi ah, (˘⌣˘)ε˘`)

  4. Pingback: Chances (Sequel of Last Kiss) « a dandelion life . .

  5. Pingback: [Ficlet] Inquiets (and link for Last Kiss Sequel) « Fanfiction Lovers~

  6. Pingback: Epilogue : Breaking The Ice « dandelion notes

  7. Ampuni sayaaaa…. T-T
    Sebelum kesini udah komen duluan di Breaking the ice, jadinya yah…hehehehe…-///-
    Jadi ini awalnya….pantesan ada Dani…
    Galau banget ini mah, mau tapi gak mau…
    Tega tapi gak tega…
    Intinya rumit.
    But Daebakkk 🙂

    • ahaha…
      no matter dear.. 🙂
      yang penting udh tau kan sekarang… ^^
      sebenernya kenapa ada dani sih ada di FF yg kedua, chances
      iyess, galau benjeett. ngebingungin dan complicated.
      muuciihh.. 🙂

  8. Ini lanjutan dari ff yang sebelumnya bukan eonni??
    Ceritanya bikin larut malah akhirnya nyesek sendiri bacanya. Apalagi endingnya, kiss with the pain inside, they’re sounds,, really damn hurt, feel so bad. Paling suka sama yang inii,, 🙂

.:: Leave a Note ::.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s