Protes untuk Sang Penggalau

Malang, 17 Januari 2012

 Yth. @benzbara
di tempat

Halo Kak Bara! 🙂

Kakak kenal saya? Tidak. Oke, saya memang tidak terkenal macam Justin Bieber, SNSD, Pak Tarno.. Tttaa… tapi… harusnya kan… kakak… ingatt…
*oke, stop*

Kakak mau dilanjutin nggak? Kalo nggak ditutup aja deh, nggak papa.

*hening*

Nggak papa kok kak. Saya nggak nangis!

*ngusep air mata*

Beneran, kak! Saya nggak papa… kakak ga usah maksain buat nerusin baca.

 

Eh? Kakak mau baca? Makasih kakak… 😀

 

Kenalkan, saya Adys. Bukan cewek ABG labil sebenarnya, tapi masih terlalu polos untuk mengenal dunia luar yang katanya lebih kejam dari ibukota kita, Jakarta. Saya hanya satu makhluk Tuhan yang terdampar di ujung Jawa bagian Timur. Nggak, saya nggak lagi mau renang di Pantai Selatan walau saya titisan Nyi Roro Kidul. Beneran deh kak, saya orang biasa. Yakin lah!

Terus, Kakak siapa? Tukang bakso depan rumah itu ya?

 

Ah, bukan ya? Maaf kak, salah kira. Abis mirip sih…

sekali lagi maaf kak…

 

Oke, serius.

Sekarang saya mau ngomong serius sama kakak.

 

Kak Bara tau kan, yang namanya move on itu susah. Jauh lebih susah dari nyari jarum dalam jerami, dari menegakkan benang basah, atau apapun deh peribahasanya. Pokoknya susah! SUSAH!!

Kakak, karena account kakak yang @RadioGalauFM itu, saya yang lagi berusaha buat move on malah jadi stuck lagi, galau lagi, keinget lagi. Yang pertamanya bisa ketawa-ketawa seneng, begitu baca 140 karakter tweet aja, rasanya semua kebahagiaan semu yang sudah susah payah aku bangun, melebur tanpa sisa. Hilang. Layaknya debu yang terbawa lajunya angin.

Iya, saya juga nggak tau kenapa saya bisa pollow itu account sesat. Tapi mungkin ini semacam candu. Tau kan bagaimana sebutir narkoba tidak akan cukup bagi seorang pecandu? Ya, saya sudah jadi pecandu di sini. Pecandu tweet-tweet kakak yang sederhana tapi menusuk. Dengan diksi-diksi kecil yang menyentuh. Menghanyutkan tanpa perlu perumpamaan berlebihan.

Ya, saya candu.

 

Tapi, kenapa saat saya masih stuck, masih kepikiran yang namanya mantan, yang masih berdiri di tempat yang sama, masih berkutat dengan kenangan dan kicauan-kicauan kakak, kakak malah udah punya pacaaaaarr??!!

Laahh… kakak menjerumuskan saya dalam jurang masa lalu, sedangkan kakak sendiri sudah menemukan masa depan? Sungguh teganyaaa…~~
*ngadu ke kak @falla_adinda*

 

Ah, tapi mungkin yang namanya jodoh kan kita nggak tau kapan ketemunya ya kak. Mungkin kakak sudah menemukan, dan saya… akan menyusul kakak secepatnya. 🙂
*amiinn…*

 

Kak Bara,

Sebenarnya, di balik semua kegalauan saya karena tweet-tweet menguras hati itu, saya sungguh ingin berterima kasih sama kakak yang sudah bikin account itu.

Kenapa?

Karena kalimat-kalimat pendek itulah yang menginspirasi saya dalam menulis. Iya, menulis. Beberapa tulisan saya, terkadang berasal dari satu jalinan kata itu. Walau mungkin hasilnya lebih sering sad-ending, ato jadi galau nggak jelas gitu, tapi yang terpenting betapa besar komposisi tweet kakak menjadi sumber pemikiran untuk saya.

Saya juga sering mencomot quote dari account kakak, maupun @RadioGalauFM untuk cerita-cerita saya. Maaf ya kak, saya belum izin sama kakak. But your tweets too cool for me!

Apakah saya dimaafkan kak?

Maaf sekali ya kaakk…

 

Overall, terima kasih untuk eksisnya kedua account kakak, yang pribadi, maupun yang @RadioalauFM. That’s make my timeline more colourful. 🙂

Semoga tweet-tweet kakak makin berbobot, dengan pemilihan kata yang indah tapi tetap mengena. Karena tweet yang seperti itulah yang selalu saya idolakan.

Semoga buku-bukunya laris manis di pasaran…

Semoga kakak bisa mencapai tahap selanjutnya sama kak @falla_adinda 🙂

 

Yang terpenting,

Semoga saya bisa cepet-cepet nyusul kakak buat punya gandengan. Uhuuy!!
*yang ini penting banget buat didoain lho kak!*

 

AMIIINN!!

 

Sekian surat saya kak, semoga kakak nggak pengen banting Blackberry, laptop, komputer warnet, ato malah bakar rumah setelah baca surat aneh saya.

Terima kasih kak Bara… 😀

 

Salam galau!
-diez-

Advertisements

One thought on “Protes untuk Sang Penggalau

  1. Pingback: “Protes untuk Sang Penggalau” – dari justonedandelion « satusungai

.:: Leave a Note ::.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s