Karena Keduanya Itu… Anugerah

Hey, S…

Sudah berapa lama putaran waktu tergerus setelah aku mengucap kata pisah? Lima tahun? Atau mungkin lebih…

Bagaimana kabarmu sekarang? Baik-baikkah? I know you have someone else now. I know.

Tidak, aku tidak menulis ini karena hatiku masih mengukir sebuah hati untukmu. Tidak. Karena masa-masa itu, sudah habis seiring hari yang terjalani. Aku… bahkan tak mengerti kenapa aku memilih untuk memikirkanmu untuk hari ini.

Mungkin, karena tiba-tiba kamu muncul dalam daftar inbox-ku hari ini? Mungkin.

 

Hey, S…

So sorry for did a coward thing in the past, when I broke our relationship just from message. Bagiku, mencintaimu adalah suatu pilihan. Dan ketika Tuhan tidak berencana sejalan dengan pilihanku, maka saat itulah aku harus mengakhiri segalanya. Orang tuaku memberiku seseorang yang lain, yang menjadikanku terikat untuk satu masa ke depan. I don’t have choice beside accept it.

Yeah, you don’t know it. I hide it from you. I keep it for myself.

Dan satu tahun kemudian, seseorang itu memutus jalinan yang berada di antara kami, tanpa dia, orang tuanya, maupun aku harapkan. Dia… pergi. Selamanya.

Aku tidak tahu, apakah aku harus sedih dan meraung, ataukah… lega? Aku tidak munafik untuk berkata, bahwa diantara 90% kesedihan, masih ada 10% kata lega yang tersisa.

Aku ingin mengejarmu, sekali lagi.

Tapi mungkin aku masih terlalu pengecut, mematok harga diri terlampau tinggi. Hingga bahkan memulai sebuah kata ‘hello’ menjadi satu hal yang amat sangat sulit bagiku.

 

Hey S…

Aku hanya bisa terdiam, dan menangis dalam hati, ketika aku tahu, kamu sudah mendapat seseorang. Seseorang yang pastinya jauh lebih baik dariku. dari seseorang yang lebih memilih untuk merelakan kamu untuk seseorang yang bahkan belum aku kenal.

Yeah, aku terlambat. Bagaimana semua hal bullshit menghalangiku untuk sekedar mengambil kembali cinta yang tersaji untukku. Bagaimana pintu untuk ucapan cinta itu sudah terkunci, rapat, ketika aku mulai berlari ke arahnya. Bagaimana senyummu bukan lagi untukku, tapi untuknya.

Sekali lagi. Aku patah hati.

Saat seperti itulah, kenangan-kenangan itu menyeruak, berebutan memberikan bayangan imajiner di depan mataku. Ketika pertemuan (sok) pintar kita antara fisika dan Harry Potter di perpustakaan, ketika aku tersedu karena kamu ternyata memiliki seseorang, ketika aku memutuskan untuk membantumu berakting menjadi pacarmu di depan mantanmu, ketika kamu menyatakan perasaanmu, ketika kamu memberiku kalung, ketika… dan ketika yang lainnya.

Bahkan ketika… aku menulis kata ‘putus’ di ponselku dengan air mata.

Melangkah lebih jauh, ketika kamu bilang kamu punya pacar, dengan bahagianya. Ketika kamu bercerita segala hal tentang gadis itu.

Dan aku hanya meringis. Pahit.

 

Hey, S…

Thank you for everything you did for me. Thank you for day by day that we passed. Thank you for love that always you gave for me.

Thank you.

Aku tidak pernah menyesal untuk mencintaimu, untuk menghabiskan satu tahun SMA ku bersamamu, untuk merasakan bibirmu, dan hangatnya pelukanmu.

Kamu mengajarkan bahagianya dicintai sepenuh hati, bagaimana tersiksanya hubungan jarak jauh, bagaimana sakitnya ketika tidak ada pilihan lain selain melepaskan genggaman tangan.

Sebaliknya, aku bersyukur karena Tuhan memberiku kesempatan untuk bertemu denganmu di balik rak-rak perpustakaan. Aku bersyukur kepada Tuhan untuk setiap momen yang terlewat bersamamu.

Aku bersyukur kepada Tuhan…

Karena jatuh cinta dan patah hati itu… keduanya anugerah.

 

with one piece of mine,
it goes to you.

Advertisements

2 thoughts on “Karena Keduanya Itu… Anugerah

.:: Leave a Note ::.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s